Jagong Budaya Mothik dan Reyog di Unmuh Ponorogo Kenalkan Warisan Leluhur kepada Generasi Muda

Jagong Budaya Mothik dan Reyog di Unmuh Ponorogo Kenalkan Warisan Leluhur kepada Generasi Muda

PONOROGONEWS.ID – Upaya mengenalkan kembali Mothik sebagai salah satu warisan budaya khas Ponorogo terus dilakukan. Salah satunya melalui kegiatan Jagong Budaya Mothik dan Reyog yang digelar di Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Selasa (12/5/2026).

Mengusung tema “Jejak Warisan dalam Ikhtiar Pelestarian Budaya”, kegiatan ini menghadirkan pegiat budaya, akademisi, komunitas, pelajar SMA, hingga mahasiswa. Forum tersebut menjadi ruang dialog untuk menggali nilai sejarah, filosofi, serta identitas budaya yang melekat pada Mothik.

Rektor Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Rido Kurnianto, mengatakan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menjaga kebudayaan daerah. Menurutnya, kampus tidak hanya menjadi pusat pendidikan akademik, tetapi juga bagian dari ekosistem pelestarian budaya lokal.

“Kami akan konsisten mengawal, melestarikan, dan mengembangkan budaya adiluhung di Kabupaten Ponorogo, khususnya Mothik,” ujar Rido.

Ia menjelaskan, Mothik bukan sekadar senjata tradisional. Lebih dari itu, Mothik memuat gambaran karakter masyarakat Ponorogo yang tegas, lugas, dan tidak banyak bicara.

“Mothik dengan bentuknya diharapkan bisa menumpas musuh sekali tebas. Ini menjadi gambaran bahwa orang Ponorogo itu apa adanya, tidak banyak bicara, tetapi tegas,” imbuhnya.

Sementara itu, pegiat Mothik dari Komunitas Pramono, Muhammad Masrofiqi atau akrab disapa Viky, menyebut Mothik memiliki hubungan erat dengan Warok. Pada masa lalu, Mothik dikenal sebagai senjata yang lekat dengan keseharian para Warok.

“Mothik itu memang erat kaitannya dengan Warok. Ini senjata keseharian para Warok,” jelas Viky.

Menurutnya, pengenalan Mothik kepada masyarakat luas menjadi penting karena Ponorogo memiliki kekayaan budaya yang beragam. Selama ini, Ponorogo memang identik dengan Reyog, namun masih banyak warisan lain yang perlu diangkat dan dikenalkan.

“Ponorogo itu bukan hanya Reyog, tetapi banyak budaya lain yang kadang kita hiraukan, termasuk Mothik. Karena itu, kami mengangkat dan mengenalkan Mothik sebagai senjata khas Kabupaten Ponorogo,” katanya.

Baca Juga: —  Di Tengah Banjir Informasi, Mengapa Mahasiswa Perlu Filsafat Ilmu?

Dari sisi sejarah, Hamka Arifin menjelaskan bahwa keberadaan Mothik memiliki jejak panjang. Ia menyebut adanya catatan awal abad ke-19 yang menyinggung senjata masyarakat Jawa bernama Menthok, dengan bentuk yang sangat mirip Mothik.

“Pada awal 1800-an, Raffles menulis bahwa senjata masyarakat Jawa adalah Menthok. Bentuknya 99 persen sama seperti Mothik,” terang Hamka.

Melalui forum Jagong Budaya tersebut, para peserta diajak untuk tidak hanya mengenal Mothik dari bentuk fisiknya, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya yang menyertainya.

Kegiatan ini sekaligus menjadi ajakan kepada generasi muda agar ikut mengambil peran dalam pelestarian budaya daerah. Dengan begitu, Mothik diharapkan tetap hidup sebagai bagian dari identitas Ponorogo dan tidak terlupakan di tengah perkembangan zaman.***

Author

  • Redaksi Ponorogo News

    Portal berita yang tumbuh dari kota Ponorogo yang menyajikan informasi aktual, independen, dan inspiratif seputar peristiwa, gaya hidup, budaya dan pendidikan.

Bagikan Artikel ini: