
Naik Pesawat, Mendahului Takdir
Ada cerita yang diam-diam beredar di lingkungan alumni. Tidak heboh, tidak diumumkan di mimbar, tapi cukup sering diulang dalam obrolan santai, seolah ada sesuatu yang perlu direnungkan pelan-pelan.
Konon, ada seorang santri yang berhasil. Usahanya berkembang, hidupnya mapan, bahkan sampai mampu mendirikan biro umrah. Dalam ukuran umum, ini bukan sekadar ‘sukses’, tapi juga bentuk keberkahan: ilmu jalan, rezeki datang.
Sebagai bentuk hormat, sekaligus mungkin rasa terima kasih, ia menawarkan sesuatu yang tidak kecil yaitu memberangkatkan sang kiai untuk berhaji. Gratis. Tanpa antre. Tanpa repot.
Kalau dipikir sekilas, ini seperti cerita yang harusnya berakhir bahagia. Santri membalas jasa, kiai menerima, lalu berangkat ke Tanah Suci dengan penuh khidmat. Sederhana, rapi, dan terasa “pas”. Tapi justru di situlah ceritanya berbelok.
Sang kiai tidak mengiyakan.
Bukan karena tidak mampu, bukan pula karena tidak ingin. Tapi karena ada satu kegelisahan yang tampaknya tidak semua orang mau memikirkannya, “jangan-jangan jalan cepat ini justru berpotensi mendzalimi orang lain”.
Di luar sana, ada banyak orang yang menabung bertahun-tahun untuk berhaji. Tidak hanya uang, tapi juga keinginan. Mereka menahan diri, mengurangi kesenangan, bahkan mengalihkan kebutuhan sehari-hari demi satu tujuan: bisa berangkat suatu hari nanti. Dan ironisnya, banyak dari mereka masih harus menunggu. Antrean panjang membuat haji bukan sekadar soal mampu, tapi juga soal giliran.
Di titik ini, sang kiai seperti melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh kebanyakan orang, bahwa percepatan bagi satu orang, bisa berarti penundaan bagi yang lain. Bahwa kemudahan yang datang pada satu pihak, mungkin berdiri di atas keterbatasan yang dialami pihak lain.
Maka tawaran itu, yang bagi banyak orang adalah rezeki, justru dihadapi dengan kehati-hatian.
Cerita ini menjadi semakin menarik ketika seseorang mencoba ‘meyakinkan’ sang kiai dengan dalil: untuk urusan dunia, dahulukan orang lain. Tapi untuk urusan akhirat, dahulukan dirimu sendiri.
Logikanya jelas. Haji adalah ibadah. Maka tidak ada alasan untuk menunda, apalagi jika kesempatan sudah ada. Tapi sang kiai seperti tidak tergesa-gesa menerima logika itu, “Urusan haji memang urusan akhirat, tapi naik pesawat itu urusan duniawi.”
Kalimat ini seperti membelah sesuatu yang sering kita satukan begitu saja. Kita terbiasa menganggap bahwa semua yang mengarah ke ibadah otomatis menjadi bagian dari ibadah itu sendiri. Seolah-olah jalannya tidak perlu dipertanyakan, selama tujuannya baik.
Padahal, sang kiai memisahkan dengan tenang.
Haji adalah urusan akhirat. Tapi cara menuju ke sana—sistemnya, antreannya, fasilitasnya—itu wilayah dunia. Dan di wilayah dunia, ada hukum lain yang tidak bisa diabaikan: keadilan, giliran, dan hak orang lain.
Seolah belum cukup jelas, sang kiai pernah dhawuh dengan bahasa yang lebih membumi:
“Lek aku iso mak jleg langsung teko Mekkah tanpa numpak pesawat, aku gelem. Utowo aku ditawani dadi pembimbing haji, budalku bareng wong sing tak bimbing, iki aku yo gelem. Tapi nek aku didaftarke saiki, budal taun ngarep, aku mesakne calon jamaah liyo sing wis ngantri suwi. Sing tak gasak kira-kira jatahe sopo? Mosok arep ngibadah wae ndadak gasak-gasakan?”
Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan sedikit jenaka di awal, mak jleg langsung sampai. Tapi bagian akhirnya pelan-pelan menusuk, “sing tak gasak jatahe sopo?”
Di situlah letak kegelisahan itu menjadi terang. Bahwa percepatan bukan sekadar soal teknis, tapi soal mengambil jatah yang mungkin bukan milik kita. Bahwa di balik satu kursi yang kosong, ada antrean panjang yang tidak terlihat. Dan mungkin yang paling mengganggu adalah pertanyaan terakhir itu: mosok arep ngibadah wae ndadak gasak-gasakan?
Seolah-olah sang kiai sedang mengingatkan dengan cara yang sangat halus—bahwa bahkan dalam ibadah pun, manusia masih bisa tergoda untuk saling mendahului dengan cara yang kurang elok.
Kita hidup di zaman yang sangat menghargai kecepatan. Siapa cepat, dia dapat. Siapa punya akses, dia lewat duluan. Bahkan kadang, kemampuan “menemukan jalan pintas” dianggap sebagai kecerdasan.
Tapi cerita ini seperti berdiri di arah yang berbeda.
Alih-alih memanfaatkan celah, sang kiai justru memilih menahan diri. Bukan karena tidak bisa, tapi karena tidak ingin mengambil sesuatu yang mungkin bersinggungan dengan hak orang lain. Meski sebenarnya tidak terlihat jelas.
Ada semacam laku batin yang jarang dibicarakan: kemampuan untuk tidak mengambil apa yang sebenarnya bisa diambil.
Ini bukan soal hukum formal, tapi soal rasa. Rasa bahwa di luar diri kita, ada orang lain yang juga sedang berjuang, juga sedang menunggu, juga sedang berharap. Dan mungkin, tidak semua kesempatan harus dimenangkan.
Cerita ini juga diam-diam menyentil cara kita memahami rezeki. Kita sering diajari bahwa jika ada kesempatan baik, ambil saja. Jangan ditolak, nanti dianggap menyia-nyiakan.
Tapi barangkali, ada lapisan lain yang lebih sunyi: bahwa menerima atau menolak bukan hanya soal “ini rezeki atau bukan”, tapi juga soal “bagaimana rezeki ini datang, dan siapa saja yang mungkin terdampak olehnya”.
Sang kiai tidak sedang menolak haji. Ia hanya sedang menjaga agar jalannya tetap bersih, tidak sekadar sah. Dan mungkin, di situlah letak pelajaran kecil yang terselip dalam cerita ini.
Bahwa menuju sesuatu yang suci, kadang tidak cukup hanya dengan niat yang baik. Cara kita melangkah ke sana juga perlu dijaga. Sebab bisa jadi, yang membuat perjalanan itu bernilai bukan hanya tujuan akhirnya, tapi juga bagaimana kita memastikan bahwa langkah-langkah di tengahnya tidak menyenggol orang lain. Tidak ‘menggasak’ jatah yang seharusnya bukan milik kita, meski hanya sedikit, meski hanya diam-diam.***(ed/ar)




