Sejarah Ponorogo: Dari Wengker hingga Kadipaten Bathoro Katong

Sejarah Kabupaten Ponorogo tak berhenti pada masa setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Akar sejarahnya jauh lebih tua, bahkan menembus masa kejayaan Kerajaan Majapahit.

Dalam naskah-naskah kuno disebutkan bahwa wilayah ini dahulu dikenal dengan nama Wengker, sebuah daerah yang terkenal dengan tokoh-tokoh sakti dan memiliki pengaruh kuat di masa kerajaan.

Nama Ponorogo diyakini lahir dari gagasan Bathoro Katong, keturunan Prabu Brawijaya V sekaligus adik Raja Demak, Raden Patah. Ia mendirikan Kadipaten Ponorogo pada tahun 1496 Masehi dan menjadi adipati pertama.

Nama tersebut berasal dari istilah Pramana Raga, yang berarti “rahasia hidup di balik tubuh manusia”. Nama Ponorogo disepakati dalam musyawarah antara Bathoro Katong, Kyai Mirah, Selo Aji, dan Joyodipo pada malam Jumat saat bulan purnama.

Ponorogo sebagai Pusat Pendidikan Islam di Jawa

Selain dikenal karena budaya dan pemerintahan yang kuat, Ponorogo juga memiliki jejak sejarah penting di bidang pendidikan. Pada abad ke-17, daerah ini menjadi pusat perkembangan Islam melalui Pondok Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari.

Pesantren ini didirikan oleh Kiai Ageng Muhammad Besari, seorang ulama besar yang mendidik banyak tokoh penting Nusantara. Di antara muridnya adalah Ronggowarsito, pujangga terakhir tanah Jawa, serta Pakubuwono II, raja Mataram yang juga sempat menimba ilmu langsung di Tegalsari.

Peran pesantren ini menjadikan Ponorogo sebagai salah satu poros intelektual Islam di Pulau Jawa pada masa itu.

Asal Usul Reog Ponorogo: Warisan Budaya yang Mendunia

Tak lengkap membahas Sejarah Ponorogo tanpa menyinggung Reog Ponorogo, kesenian khas yang menjadi identitas daerah.

Reog merupakan seni tari topeng yang menggambarkan keberanian, keteguhan, dan semangat kepahlawanan. Para penarinya mengenakan kostum megah dengan topeng berbentuk singa atau macan—dikenal sebagai Singo Barong—serta diiringi tabuhan musik tradisional yang menggugah.

Baca Juga: —  Tragedi Malam Jumat Legi: Gagalnya Pemberontakan Pulung 1885 di Ponorogo

Tradisi ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga simbol perlawanan dan kebanggaan masyarakat Ponorogo. Setiap tahun, digelar Festival Reog Nasional yang menampilkan ratusan kelompok seni dari seluruh Indonesia untuk melestarikan warisan budaya ini.

Beberapa sumber sejarah menyebut, Reog diciptakan oleh Bathoro Katong sebagai media penyatuan budaya masyarakat Wengker dengan ajaran Islam yang ia bawa.

Warok Ponorogo: Sosok Sakti dan Disegani

Sosok Warok adalah bagian penting dari identitas masyarakat Ponorogo. Dalam pandangan tradisi lokal, warok adalah laki-laki yang memiliki ilmu tinggi, keberanian luar biasa, dan kebijaksanaan dalam bertindak.

Asal-usul warok berawal dari kisah Ki Ageng Kutu, seorang demang setia Majapahit. Ia mendirikan perguruan untuk melatih para pemuda dalam ilmu kesaktian, bela diri, dan moralitas. Murid yang telah menuntaskan ajaran tersebut disebut warok, dan menjadi pasukan kepercayaannya.

Namun, setelah kekuasaan beralih ke tangan Bathoro Katong, sebagian besar warok memilih bergabung dan mengabdi di pemerintahan baru. Mereka berperan sebagai pengawal pribadi maupun pejabat penting Kadipaten Ponorogo.

Dua warok yang menolak tunduk—Warok Surogentho dan Warok Singokobro—kemudian dikenal sebagai tokoh yang menentang pemerintahan Bathoro Katong.

Warisan Sejarah yang Tak Pernah Padam

Hingga kini, Ponorogo tetap dikenal sebagai daerah dengan tradisi budaya yang kuat, pendidikan pesantren yang berpengaruh, dan masyarakat yang menjunjung nilai kesetiaan serta keberanian.

Dari Bathoro Katong, Reog, hingga Warok, semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang Sejarah Ponorogo yang membentuk jati diri dan kebanggaan masyarakatnya hingga hari ini.

 

Author

  • khafidh

    Owner khafi.id. Dan berkeinginan mendirikan "Jobless Foundation", sebuah kelompok para pengangguran yang tetap berusaha eksis dan berusaha mempengaruhi orang agar tetap nganggur.

    Pernah beberapa kali bekerja menjadi layouter di media lokal dan selalu dipecat secara tidak hormat, karena tidak bisa disiplin. Tapi belum pernah korupsi.

    Pernah pula bercita-cita menjadi sarjana, tapi gagal.

     

Baca Juga: —  Parenting Makin Sulit Akibat Standar Moral yang Kian Kabur
Bagikan Artikel ini: