Ponorogo: Budaya, Monumen dan Sampah

Ponorogo: Budaya, Monumen dan Sampah / Foto: Instagram @Sampungkeren

Ponorogo kota Kreatif, mungkin benar. Sebab organisasi besar UNESCO pun sudah mengakuinya. Masa kita sebagai masyarakat Ponorogo sendiri tidak mengakuinya? Lucu juga kalau sampai begitu. Lagi pula, kita punya kebanggaan lain berupa patung raksasa yang menyimbolkan kesenian khas kita, Reog. Konon, patung itu akan menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia. Bangga? tentu saja. Siapa yang tidak bangga? Meski di sela-sela rasa bangga itu kadang muncul rasa was-was—jangan-jangan pejabat yang kita kira baik-baik saja, ternyata sedang menghitung hari menunggu giliran dipanggil KPK.

Di sisi lain, persoalan yang lebih dekat dengan kita dan sering tidak disadari justru pelan-pelan menumpuk dan menjadi masalah. Masalah sederhana, yang sering kita anggap sepele. Salah satunya: sampah. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Mrican belakangan ini sedang tidak baik-baik saja. Ruangnya makin menipis, sementara produksi sampah tidak pernah belajar menahan diri. Kita membangun patung tinggi untuk memamerkan kreativitas, tapi sisa-sisa plastik minyak goreng dan kardus mie instan justru bingung harus melanjutkan hidup di mana.

Ironi, tapi ya begitulah kita. Sering lebih cepat membangun yang bisa difoto daripada membenahi yang baunya nyata.

Sampah ini, ibarat halaman rumah. Bagian kecil yang tak pernah masuk pidato, tetapi kalau dibiarkan menumpuk bisa membuat tetangga minggir sambil tutup hidung. Mungkin karena sampah tidak bisa dipamerkan di baliho. Tidak bisa dijadikan spot swafoto. Tidak ada orang yang bangga berpose di depan gunungan plastik sambil menulis caption “healing”. Maka wajar jika ia kalah pamor dengan patung raksasa yang berdiri megah, menantang awan.

Padahal, kota kreatif bukan hanya kota yang pandai menciptakan simbol, melainkan yang pandai menyelesaikan masalah paling dasar dengan cara-cara yang juga kreatif. Kreatif dalam mengelola sampah, kreatif dalam menyediakan ruang hijau, kreatif dalam merawat desa agar tak hanya jadi lumbung suara. Tapi entah kenapa, yang kreatif justru seringkali baliho dan visi-misi kampanye. Setelah itu, kreatifnya hilang seperti data bantuan sosial yang nyelip di laci.

Baca Juga: —  Wajah MRMP di Penghujung Tahun: Ramai Wisatawan, Puluhan Lapak Tumbuh di Sekitar Monumen

Bayangkan jika kelak patung itu selesai berdiri. Orang-orang datang, mengambil foto terbaik, mengunggahnya dengan tagar #PonorogoKeren. Ekonomi sekitar bergerak, warung soto penuh, tukang parkir sumringah. Tetapi di belakangnya, truk sampah antre menunggu giliran membuang muatan, sementara petugas bingung hendak menumpuknya di mana. Ibarat pesta pernikahan mewah, tapi dapur belakang masih sibuk mencari gas untuk memasak air.

Kita bangga dengan Reog sebagai identitas, dan itu wajar. Namun bukankah keberanian warok itu bukan hanya soal menari gagah di depan penonton, tetapi juga keberanian menghadapi kenyataan apa adanya? Termasuk kenyataan bahwa Ponorogo butuh pengelolaan sampah yang lebih serius daripada sekadar menutup TPA dengan do’a agar masalah selesai dengan sendirinya.

Sebab sampah tidak pernah bisa dihindari. Ia adalah bukti kita hidup. Setiap piring bersih di dapur, ada sisa kulit bawang di tempat sampah. Setiap foto wisata yang cantik, ada kantong plastik bekas es teh di baliknya. Pertanyaannya selalu satu: kita akan membuangnya ke mana?

Kreativitas yang sejati bukan hanya tampak pada patung menjulang ke langit, tetapi juga pada cara kita merendah untuk melihat tanah—tempat semua jejak akhirnya kembali. Mungkin sudah saatnya Ponorogo tidak hanya kreatif untuk dunia luar, tapi juga kreatif untuk perut kotanya sendiri. Kreatif dalam mengelola lingkungan, kreatif dalam membangun sistem, kreatif dalam menjaga amanah agar tidak berakhir di ruang pemeriksaan.

Toh, sejarah sering mencatat yang sederhana justru lebih lama dikenang. Kota besar di luar sana bangga bukan karena monumennya tinggi, tapi karena warganya disiplin membuang sampah, jalannya ramah difabel, dan pejabatnya tidak menyiapkan koper ketika mendengar kata “audit”.

Maka mari bangga. Tidak salah. Tapi sambil bangga, jangan lupa menunduk sedikit untuk melihat lantai, barangkali ada sampah kecil yang menunggu dipungut. Karena patung bisa menatap jauh ke cakrawala, tapi bau sampah tetap akan kembali ke hidung kita sendiri.

Baca Juga: —  Per November 2025 Terdapat 22 Titik Bencana Longsor, Masyarakat Ponorogo Harus Waspada

Dan pada akhirnya, mungkin kota kreatif bukan tentang seberapa tinggi kita mendirikan patung, tetapi seberapa rendah hati kita menyelesaikan masalah yang tidak bisa dipamerkan. Patung boleh menjulang, tapi akal sehat harus tetap membumi.

Begitu kiranya, dari satu warga yang masih bingung: kita ingin kota terlihat megah, atau kota yang benar-benar layak ditinggali? Karena kalau hanya ingin terlihat megah, cukup beli drone. Tapi kalau ingin layak, kita perlu kerja lebih dari sekadar membangun yang tinggi-tinggi.

Dan yang tetap perlu kita ingat adalah: sampah selalu bekas dari diri kita sendiri. seperti kata Einstein, environment is everything that isn’t me. Namun yang sering kita lupa adalah, lingkungan buruk selalu kembali kepada kita.

Setinggi apa pun monumen dibangun, selama kita tidak belajar merawat hal-hal sederhana (lingkungan, kebiasaan, cara hidup), kebanggaan itu hanya berdiri sebagai simbol: indah dipandang, tapi rapuh dalam kenyataan.

Author

  • khafidh

    Owner khafi.id. Dan berkeinginan mendirikan "Jobless Foundation", sebuah kelompok para pengangguran yang tetap berusaha eksis dan berusaha mempengaruhi orang agar tetap nganggur.

    Pernah beberapa kali bekerja menjadi layouter di media lokal dan selalu dipecat secara tidak hormat, karena tidak bisa disiplin. Tapi belum pernah korupsi.

    Pernah pula bercita-cita menjadi sarjana, tapi gagal.

     

Bagikan Artikel ini: