Minyak Goreng Dipakai Ulang Kali, Amankah? Ini Penjelasan Ahli

Close-up of golden spring rolls frying in hot oil, showcasing delicious texture and crispy edges.
Bahaya minyak goreng yang dipakai berulang kali.

PONOROGONEWS.ID – Minyak goreng yang dipakai berulang kali akan mengalami perubahan kimia yang signifikan. Proses pemanasan berulang menyebabkan oksidasi lemak, yang berujung pada pembentukan senyawa berbahaya seperti aldehid dan hidroperoksida.

Senyawa ini tidak hanya menimbulkan bau tengik dan rasa yang kurang sedap, tetapi juga dapat menimbulkan efek toksik ketika dikonsumsi dalam jangka panjang.

Penggunaan minyak goreng berulang kali dapat meningkatkan kadar asam lemak trans dalam minyak tersebut. Secara visual, minyak sudah mulai menghitam dan pekat sebagai tanda asam lemak trans mulai berkembang.

Asam lemak trans ini bersifat merugikan tubuh karena dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kolesterol baik (HDL), sehingga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Selain itu, oksidasi minyak juga menghasilkan radikal bebas yang dapat merusak sel dan jaringan tubuh, berkontribusi pada penyakit degeneratif seperti kanker dan kerusakan organ.

Baca Juga: —  Pemerintah Numpang Nampang Kesuksesan, Tapi Abai saat Petani Kesusahan

Maksimal Penggunaan Ulang Minyak Goreng

Menurut keterangan Chef Ragil Imam Wibowo, ahli pangan yang dikenal sebagai sosok karena kiprahnya dalam mengangkat kekayaan gastronomi Nusantara, jenis minyak dengan titik panas (smoke point) tinggi adalah pilihan terbaik untuk dipakai ulang.

“Minyak goreng bertemperatur tinggi kalau buat saya memang jauh lebih sehat karena serapan minyaknya ke makanan lebih sedikit,” kata Chef Ragil dikutip dari Kompas.

Namun demikian, kata dia, minyak goreng sebaiknya tidak digunakan lebih dari dua sampai tiga kali penggorengan. Melewati batas ini, kualitas minyak mulai menurun drastis dan risiko kesehatan meningkat secara signifikan. Ia menyarankan agar minyak yang dipakai ulang masih memiliki warna kuning kecoklatan dan tidak berbau tengik.

“Selama warna minyaknya masih proper, masih kuning kecoklatan, tidak sampai hitam,” imbuhnya.

Minyak dengan Titik Panas Tinggi sebagai Pilihan Utama

Minyak goreng yang memiliki titik asap tinggi lebih stabil saat dipanaskan berulang kali dan relatif lebih sehat untuk digunakan kembali. Contoh minyak dengan titik asap tinggi yang direkomendasikan adalah minyak kelapa sawit, minyak kacang, minyak kanola, minyak jagung, dan minyak zaitun. Berkat kestabilannya, minyak jenis ini lebih stabil warnanya dan tahan terhadap suhu penggorengan tinggi.

Baca Juga: —  Kepribadian Unik Orang yang Suka Bawa Tumbler Kemana-mana

Tingkat kerusakan minyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya jenis minyak, suhu penggorengan, serta jenis bahan makanan yang digoreng. Misalnya, menggoreng ikan atau ayam cenderung membuat minyak lebih cepat kotor dan rusak dibandingkan menggoreng bahan lain karena residu protein dan lemak hewani. Suhu yang terlalu tinggi melebihi titik asap minyak juga dapat mempercepat pembentukan zat berbahaya.

Minyak yang sudah berubah warna menjadi hitam atau pekat, berbau tengik, berbusa berlebihan ketika dipanaskan, dan rasa minyak yang berubah menjadi tidak sedap, sebaiknya tidak digunakan lagi.

Teknik Penyaringan Minyak Setelah Digunakan

Salah satu cara untuk memperpanjang masa pakai minyak goreng adalah dengan menyaring minyak setelah selesai digunakan. Penyaringan ini bertujuan menghilangkan sisa makanan dan partikel-partikel halus yang dapat memicu kerusakan minyak.

Baca Juga: —  Dampak Buruk Sering Minum Softdrink dan Risiko Penyakit Kronis yang Mengintai

Teknik penyaringan dapat dilakukan dengan menggunakan kertas penyaring khusus minyak, saringan logam, atau bahkan metode tradisional menggunakan nasi putih kukus yang dapat menarik kotoran halus dari minyak panas.

Tips Menggoreng Agar Minyak Awet

Tips menggoreng agar minyak awet ialah dengan mengoperasikan penggorengan pada suhu antara 175-190°C yang ideal, tidak membiarkan minyak terlalu lama dipanaskan tanpa makanan, serta menghindari penggunaan minyak untuk menggoreng makanan yang mengandung banyak tepung atau gula yang mempercepat pembusukan minyak.

Selain itu, memasak bahan makanan yang berat terlebih dahulu dan bahan yang ringan terakhir juga membantu menjaga kelangsungan kualitas minyak.***

Author

  • Arini Sa'dah

    A passionate and detail-oriented content writer professional with a strong background in journalism and digital media.

Bagikan Artikel ini: