Author: khafidh

Owner khafi.id. Dan berkeinginan mendirikan "Jobless Foundation", sebuah kelompok para pengangguran yang tetap berusaha eksis dan berusaha mempengaruhi orang agar tetap nganggur.

Pernah beberapa kali bekerja menjadi layouter di media lokal dan selalu dipecat secara tidak hormat, karena tidak bisa disiplin. Tapi belum pernah korupsi.

Pernah pula bercita-cita menjadi sarjana, tapi gagal.

 

Menjadi Guru: Antara Profesionalitas dan Formalitas

Dulu, sewaktu SD, kami sekelas pernah ditanya soal cita-cita oleh guru. Pertanyaannya sederhana, seperti pertanyaan yang muncul tiap tahun ajaran baru: “Kelak mau jadi apa?” Saya, dengan kejujuran seorang bocah yang belum mengenal hirarki kemuliaan profesi, menjawab, “Saya ingin menjadi tukang becak.” Di mata saya waktu itu, tukang becak adalah pekerjaan yang sangat logis: gowes […]

Bagikan Artikel ini:

Menjadi Guru: Antara Profesionalitas dan Formalitas Read More »

Doa Politik yang Terkadang Blunder

Ponorogo itu unik—setidaknya menurut sebagian warganya sendiri. Reog misalnya: sebuah kesenian berupa tari topeng, tetapi topengnya gedhine ora ndlomok, mungkin salah satu yang terbesar di dunia. Sebuah seni yang membuat Ponorogo merasa berbeda, atau dalam bahasa yang lebih sederhana: ora enek sing madani. Belum lagi sejarah negeri ini yang diam-diam banyak dimulai dari kota ini.

Bagikan Artikel ini:

Doa Politik yang Terkadang Blunder Read More »

Andai Ipong Jadi Bupati, Apakah Lebih Baik dari Sugiri?

Masih hangat pembicaraan soal OTT KPK terhadap Bupati Ponorogo di media sosial. Ya… masih hangat-hangat —maaf— tai ayam: tajam di awal, lalu hilang dalam waktu sekejap. Lima hari lagi, sebagian besar orang akan kembali sibuk dengan rutinitas, seolah peristiwa itu hanya jeda kecil dalam drama online mereka. Kecuali, tentu saja, bagi mereka yang memang pekerjaannya

Bagikan Artikel ini:

Andai Ipong Jadi Bupati, Apakah Lebih Baik dari Sugiri? Read More »

Monumen Reog Ponorogo, Sebuah Ambisi Kecil Penguasa

Ponorogo sudah sepantasnya bangga karena di daerah ini berdiri sebuah monumen tertinggi se-Indonesia. Monumen Reog, setinggi 126 meter, berdiri tegak di Gunung Gamping, Sampung, seakan ingin berkata kepada siapa saja yang lewat: “Ini rumahnya Reog.” Di sekitarnya kelak ada Museum Peradaban, tempat sejarah dan artefak Ponorogo dirawat dengan cahaya lampu yang temaram dan narasi resmi

Bagikan Artikel ini:

Monumen Reog Ponorogo, Sebuah Ambisi Kecil Penguasa Read More »

OTT di Ponorogo dan Kebiasaan Kita Membela yang Tak Perlu Dibela

Beberapa hari lalu, muncul kabar yang cukup membuat rakyat jelata agak “ndomblong”: KPK menyita Jeep Rubicon dan BMW dari kediaman Direktur RSUD Harjono Ponorogo, Yunus Mahatma. Barang-barang mewah itu bukan sekadar simbol gaya hidup, melainkan tanda lain bahwa korupsi di negeri ini bisa sangat “berkelas.” Saya kira dari sinilah banyak dari kita mulai makin percaya:

Bagikan Artikel ini:

OTT di Ponorogo dan Kebiasaan Kita Membela yang Tak Perlu Dibela Read More »

Hikmah di Balik Tertangkapnya Sugiri

Terus terang, saya sempat ragu menulis tentang kasus Sugiri. Bukan karena takut keliru atau dianggap membela, tetapi karena Sugiri—di mata banyak warga Ponorogo—bukan sosok yang pantas diputuskan bersalah hanya karena satu peristiwa. Selama menjabat sebagai pemimpin daerah, ia dikenal merakyat, mau turun ke lapangan, dan tidak menunjukkan sikap “kemlinthi” sebagaimana stereotype pejabat pada umumnya. Dan

Bagikan Artikel ini:

Hikmah di Balik Tertangkapnya Sugiri Read More »

Sejarah Ponorogo: Dari Wengker hingga Kadipaten Bathoro Katong

Sejarah Kabupaten Ponorogo tak berhenti pada masa setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Akar sejarahnya jauh lebih tua, bahkan menembus masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Dalam naskah-naskah kuno disebutkan bahwa wilayah ini dahulu dikenal dengan nama Wengker, sebuah daerah yang terkenal dengan tokoh-tokoh sakti dan memiliki pengaruh kuat di masa kerajaan. Nama Ponorogo diyakini lahir dari gagasan Bathoro

Bagikan Artikel ini:

Sejarah Ponorogo: Dari Wengker hingga Kadipaten Bathoro Katong Read More »

Bahaya Menggendong Tas di Satu Bahu: Risiko Nyeri Kronis, Cedera Bahu, hingga Masalah Tulang Belakang

  Kebiasaan membawa tas hanya pada satu sisi bahu, yang sering dilakukan demi gaya atau kenyamanan, ternyata menyimpan risiko serius bagi kesehatan jika dilakukan terus-menerus. Para ahli ortopedi memperingatkan bahwa praktik ini dapat menyebabkan kerusakan bertahap pada bahu dan tulang belakang. Menurut Dr. Aditya Sai, Konsultan Senior Ortopedi Bedah Bahu, Artroskopi & Kedokteran Olahraga, tubuh

Bagikan Artikel ini:

Bahaya Menggendong Tas di Satu Bahu: Risiko Nyeri Kronis, Cedera Bahu, hingga Masalah Tulang Belakang Read More »

Tragedi Malam Jumat Legi: Gagalnya Pemberontakan Pulung 1885 di Ponorogo

Pada malam sunyi 15 Oktober 1885, Desa Patik di Kecamatan Pulung, Ponorogo, menjadi saksi lahirnya sebuah rencana besar. Martodimejo, tokoh lokal yang dikenal kharismatik, bersama anak dan keponakannya, menyusun siasat pemberontakan melawan pemerintah kolonial Belanda. Mereka bermaksud merebut kota Ponorogo dan menumbangkan penguasa Eropa yang dianggap menindas rakyat desa. Rencana pertama gagal karena banyak pengikut

Bagikan Artikel ini:

Tragedi Malam Jumat Legi: Gagalnya Pemberontakan Pulung 1885 di Ponorogo Read More »

Dindik Ponorogo Dorong Inovasi Pembelajaran Lewat Bantuan Smart Digital Screen

Ponorogonews.id-Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Ponorogo terus mendorong para guru agar lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan metode pembelajaran. Dorongan ini sejalan dengan datangnya bantuan smart digital screen dari Pemerintah Pusat yang mulai disalurkan ke berbagai sekolah di Ponorogo. Perangkat layar pintar berukuran 75 inci tersebut akan dibagikan ke ratusan sekolah sepanjang tahun 2025. Bantuan ini

Bagikan Artikel ini:

Dindik Ponorogo Dorong Inovasi Pembelajaran Lewat Bantuan Smart Digital Screen Read More »