
PONOROGONEW.ID – Menjelang dimulainya Tahun Ajaran 2026/2027, Pemerintah Kabupaten Ponorogo menyerahkan Surat Keputusan Bupati tentang Penetapan Calon Peserta Didik Baru Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Kabupaten Ponorogo kepada 76 siswa yang dinyatakan lolos seleksi.
Penyerahan SK tersebut menjadi awal perjalanan pendidikan baru bagi puluhan anak dari keluarga yang masuk dalam kelompok desil 1 hingga desil 5. Mereka akan menempuh pendidikan mulai jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dengan sistem pendidikan berasrama.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Ponorogo, Tony Sumarsono, menjelaskan bahwa proses penerimaan peserta didik Sekolah Rakyat berbeda dengan sekolah pada umumnya. Pendaftaran tidak dibuka secara umum karena program tersebut diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan dukungan dan pemerataan akses pendidikan.
“Sekolah Rakyat memang diprioritaskan bagi saudara-saudara kita yang masuk kategori dan sangat membutuhkan kesetaraan pendidikan,” ujar Tony.
Berdasarkan data awal yang diterima dari Kementerian Sosial, terdapat 33.905 orang yang masuk dalam daftar calon sasaran Sekolah Rakyat di Kabupaten Ponorogo. Setelah melalui proses pendataan dan verifikasi, jumlah tersebut mengerucut menjadi 6.338 orang.
Dari hasil pendataan itu, sebanyak 127 anak menyatakan berminat mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Kabupaten Ponorogo, mulai jenjang SD, SMP, hingga SMA.
Dinas Sosial bersama Badan Pusat Statistik dan sejumlah instansi terkait kemudian melakukan seleksi serta penilaian lanjutan. Berdasarkan proses tersebut, ditetapkan 76 calon peserta didik, yang terdiri atas 16 siswa jenjang SD, 30 siswa jenjang SMP, dan 30 siswa jenjang SMA.
Tony menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Sekolah Rakyat, menurutnya, tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga membentuk kepribadian peserta didik.
“Setiap anak memiliki kesempatan pendidikan yang sama. Hari ini kita akan memulai lingkungan pendidikan yang tidak hanya mengedepankan prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter, kemandirian, kepedulian sosial, kedisiplinan, dan semangat gotong royong,” ungkapnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Bupati Ponorogo, Lisdyarita, memanfaatkan momentum tersebut untuk berbicara langsung kepada para calon siswa dan wali murid setelah menyerahkan SK penetapan peserta didik baru.
Berada di tengah-tengah para siswa dan orang tua, perempuan yang akrab disapa Bunda Lis itu tampak tidak kuasa menahan air mata. Dengan suara bergetar, ia meminta para siswa tidak pernah merasa rendah diri karena latar belakang keluarga maupun kondisi ekonomi mereka.
Menurut Lisdyarita, masa depan seseorang tidak ditentukan oleh tempat asal atau keadaan keluarganya, melainkan oleh kemauan untuk belajar, bekerja keras, dan terus berusaha.
“Dengarkan Bunda. Kalian harus belajar dengan baik. Kalau kalian belajar dengan baik, kalian akan mengangkat harkat dan martabat keluarga kalian. Sekolah yang akan kalian tempati ini sama dengan sekolah pada umumnya. Masa depan kalian bukan dilihat dari mana tempat kalian berasal, tetapi dari sejauh mana kalian mau belajar,” ucap Lisdyarita dengan suara bergetar menahan haru.
Lisdyarita berharap kesempatan mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh. Ia meminta para siswa menaati aturan sekolah, menghormati guru dan pendamping, serta membangun hubungan yang baik dengan sesama peserta didik.
Pesan juga disampaikan kepada para orang tua agar mengikhlaskan anak-anak mereka menjalani pendidikan berasrama. Lisdyarita memahami bahwa melepas anak tinggal jauh dari rumah bukanlah perkara mudah, terutama bagi keluarga yang sebelumnya terbiasa hidup bersama setiap hari.
Ia juga menyinggung masih adanya sebagian masyarakat yang memandang sebelah mata keberadaan Sekolah Rakyat. Padahal, program tersebut dilengkapi sistem pendidikan, pendampingan, pemenuhan kebutuhan dasar, serta pembinaan karakter dan keagamaan bagi para peserta didik.
“Saya memahami bagaimana rasanya melepas anak jauh dari rumah. Pasti ada rasa kekhawatiran. Maka saya minta bapak dan ibu wali murid bisa ikhlas. Jika orang tua ikhlas, anaknya juga akan tenang di sini dan bisa belajar dengan baik. Kalau kangen sama anak, doakan saja semoga mereka menjadi anak yang sukses,” pesannya.
Usai penyerahan SK, Lisdyarita turut mendampingi para calon peserta didik menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari persiapan sebelum para siswa mulai mengikuti pendidikan dan tinggal di asrama Sekolah Rakyat.
Menurut Lisdyarita, pemeriksaan kesehatan bukan sekadar untuk memenuhi persyaratan administrasi. Kegiatan itu merupakan bentuk kepedulian pemerintah dalam memastikan setiap calon peserta didik berada dalam kondisi sehat serta memperoleh pendampingan sesuai kebutuhannya.
“Karena anak-anak ini akan bermukim di sekolah, maka dengan mengetahui kondisi kesehatan mereka sejak awal, pihak sekolah dapat memberikan pendampingan yang lebih baik untuk mendukung tumbuh kembang peserta didik,” pungkasnya.
Penetapan 76 peserta didik tersebut diharapkan menjadi pintu awal bagi anak-anak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas, membangun kemandirian, serta memperjuangkan masa depan yang lebih baik bagi diri sendiri dan keluarganya.




