Pemerintah Numpang Nampang Kesuksesan, Tapi Abai saat Petani Kesusahan

Pexels
Ilustrasi para petani sedang memanen padi. (Foto: pexels.com)

PONOROGONEWS.ID – Beberapa waktu yang lalu, pemerintah kita (Kabupaten Ponorogo tentunya) merayakan panen raya di Desa Ngglinggang. Dihadiri pejabat penting kabupaten. Meriah? Mungkin saja. Sebab mana ada acara yang dihadiri pemerintah tidak meriah.

Ada tumpeng, ada doa, ada sambutan, dan tentu saja ada dokumentasi. Wajah-wajah tampak sumringah, kalimat-kalimat terdengar penuh optimisme, dan semuanya berjalan sebagaimana mestinya sebuah perayaan: rapi, hangat, dan mudah dibanggakan. Panen diposisikan bukan hanya sebagai hasil kerja petani, tapi juga sebagai simbol keberhasilan bersama. Setidaknya, begitu yang tampak di permukaan.

Dengan acara seperti ini, rakyat bahagia? Ya, sebagian besar tentu bahagia. Rakyat itu sederhana, kok. Tidak semanja yang sering dibayangkan. Bisa kumpul, bisa makan bersama, bisa merasakan suasana yang berbeda dari hari biasa, itu saja sudah cukup membuat hati lega.

Nanging, ewoo semono yo isih mentala korupsi, uga dalan ora ndang didandani, mesioa wis enek sing mati ngendani jeglongan. Kebahagiaan yang sederhana itu kadang justru hidup berdampingan dengan masalah yang tidak sederhana.

Tidak ada yang salah dengan merayakan panen. Syukur memang tidak perlu ditunda. Hasil kerja berbulan-bulan itu wajar jika dirayakan, bahkan perlu. Tapi entah kenapa, di tengah suasana yang serba baik itu, ada satu ganjalan kecil yang tidak ikut larut. Bukan pada acaranya, melainkan pada cara kita memaknainya.

Baca Juga: —  Metik di Desa Glinggang, Kolaborasi Tradisi dan Teknologi untuk Perkuat Ketahanan Pangan

Sebab di waktu yang tidak terlalu jauh dari perayaan itu, di sawah-sawah yang tidak sempat masuk kamera, ada cerita lain yang berjalan dengan ritme yang berbeda. Ada petani yang mulai mengernyit saat membeli pupuk, karena harganya tidak lagi sekadar naik, tapi terasa seperti sedang menguji kesabaran. Ada yang menakar pestisida dengan perhitungan yang makin hati-hati, antara ingin menyelamatkan tanaman atau sekadar menunda kerugian. Ada pula yang melihat padinya menguning sebelum waktunya—ngreseg, kata orang sini, dengan nada yang pelan-pelan berubah dari kaget menjadi terbiasa.

Belum lagi soal genangan air di beberapa lahan. Hujan yang datang mungkin membawa berkah bagi sebagian, tapi bagi yang lain, ia justru meninggalkan kecemasan. Sawah yang seharusnya menjanjikan hasil, berubah jadi ruang tunggu yang penuh tanda tanya. Akan panen atau justru gagal, semuanya terasa menggantung.

Di momen seperti itu, suasananya jelas berbeda. Tidak ada tumpeng, tidak ada sambutan, tidak ada yang berdiri di depan membawa mikrofon. Yang ada justru penjelasan yang terdengar rapi: sesuai prosedur. Jika hama datang, tunggu laporan. Jika gagal panen, tunggu pendataan. Jika butuh bantuan, tunggu giliran. Semua terdengar tertib, masuk akal, dan mungkin memang harus begitu dalam sistem yang besar.

Hanya saja, masalah di sawah tidak pernah belajar antre. Ia datang tanpa jadwal, tanpa pemberitahuan, dan sering kali tanpa kompromi. Ketika hama menyerang atau air menggenang, yang dibutuhkan bukan hanya alur, tapi kecepatan. Bukan hanya ketertiban, tapi kehadiran yang benar-benar terasa.

Dan di titik inilah, barangkali tidak terlalu berlebihan jika ada yang mulai berbisik, pelan tapi jelas, bahwa pemerintah kita kadang tampak seperti ikut hadir sekadar numpang nampang. Mereka tidak ikut merasakan mahalnya pupuk, tidak benar-benar tahu bagaimana sengatan matahari saat tandur dan matun, tapi bisa berdiri paling depan saat panen raya berlangsung. Sebaliknya, ketika wabah datang atau keadaan mulai goyah, kehadiran itu berubah: tidak benar-benar hilang, tapi mengecil, bersembunyi di balik prosedur, muncul sesekali, lalu hilang lagi tanpa banyak terasa.

Baca Juga: —  Ponorogo Tembus 10 Besar Lumbung Pangan Jatim, Petani Jadi Kunci Ketahanan Pangan Nasional

Barangkali memang tidak salah jika pemerintah hadir saat panen, ikut merasakan kebahagiaan, dan menyampaikan apresiasi. Itu bagian dari hubungan yang semestinya terjalin. Namun yang terasa janggal adalah ketika kehadiran itu terasa lebih utuh di saat hasilnya baik, tapi menjadi samar ketika keadaan memburuk. Seolah-olah keberhasilan itu milik bersama, sementara kesulitan cukup ditanggung sendiri.

Lucunya, di banyak kesempatan kita sering mendengar petani disebut sebagai pahlawan pangan. Sebuah sebutan yang terdengar tinggi dan penuh penghormatan. Tapi dalam banyak cerita, pahlawan biasanya tidak dibiarkan sendirian saat keadaan sulit. Ia didampingi, dibantu, dan setidaknya tidak ditinggalkan ketika cerita mulai tidak menyenangkan.

Maka mungkin yang perlu kita tanyakan bukan lagi soal siapa yang hadir dalam perayaan panen. Pertanyaan yang lebih jujur justru muncul di luar itu: siapa yang tetap tinggal saat panen tidak jadi dirayakan? Siapa yang benar-benar ada ketika sawah mulai bermasalah, ketika hasil tidak sesuai harapan, dan ketika petani mulai menghitung ulang bukan keuntungan, tapi kerugian?

Karena pada akhirnya, yang paling terasa di sawah bukan siapa yang datang ketika kamera menyala, melainkan siapa yang tidak pergi ketika masalah mulai nyata. Dan di titik itu, kita biasanya tidak butuh banyak orang. Cukup yang benar-benar hadir, tanpa harus menunggu acara.***

Authors

  • Redaksi Ponorogo News

    Portal berita yang tumbuh dari kota Ponorogo yang menyajikan informasi aktual, independen, dan inspiratif seputar peristiwa, gaya hidup, budaya dan pendidikan.

  • khafidh

    Owner khafi.id. Dan berkeinginan mendirikan "Jobless Foundation", sebuah kelompok para pengangguran yang tetap berusaha eksis dan berusaha mempengaruhi orang agar tetap nganggur.

    Pernah beberapa kali bekerja menjadi layouter di media lokal dan selalu dipecat secara tidak hormat, karena tidak bisa disiplin. Tapi belum pernah korupsi.

    Pernah pula bercita-cita menjadi sarjana, tapi gagal.

     

Bagikan Artikel ini: