
PONOROGONEWS.ID – Pondok Pesantren Al Iman menunjukkan model kemandirian yang jarang ditemui pada lembaga pendidikan serupa. Pesantren ini mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri melalui peternakan, perkebunan, dan persawahan yang seluruhnya dikelola oleh para santri.
Upaya tersebut mendapat apresiasi dari Plt Bupati Ponorogo saat meninjau Pondok Pesantren Al Iman Putri di Babadan, Kamis (30/4/2026).
Plt Bupati menyebut langkah tersebut sebagai inovasi yang relevan dengan tantangan zaman, terutama di tengah menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian.
“Program-program di Pondok Pesantren Al Iman ini luar biasa. Tidak hanya fokus pada ngaji, tetapi juga mampu mengembangkan sistem ketahanan pangan hingga memenuhi kebutuhan mereka sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, pesantren kini tidak hanya memiliki fungsi pendidikan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan kemandirian. Ia menilai keberhasilan Al Iman dapat menjadi model bagi lembaga pendidikan lain dalam menguatkan ketahanan pangan berbasis komunitas.
Bunda Lisdyarita yang turut mendampingi kunjungan juga menilai inisiatif tersebut sebagai langkah penting dalam menyiapkan santri yang tidak hanya ahli agama, tetapi juga menguasai keterampilan praktis. “Pondok Pesantren Al Iman membuktikan bahwa pesantren bisa mandiri dan mampu mencetak santri yang siap menghadapi masa depan,” katanya.
Kemandirian pangan di Al Iman telah dibangun sejak lama. Kepala Pondok Pesantren Al Iman Putra, KH Ahmad Zawawi, menjelaskan bahwa seluruh kebutuhan pokok, mulai dari beras hingga daging, diproduksi sendiri melalui lahan pertanian dan peternakan yang dikelola para santri.
“Di sini semuanya harus sendiri. Sawah-sawah pondok dikelola sepenuhnya oleh santri putra sehingga kebutuhan makanan bisa dipenuhi tanpa bergantung pihak luar,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa pesantren membina berbagai sektor produksi, mulai dari peternakan, perkebunan, hingga persawahan. Semua dirancang untuk memperkuat kemandirian ekonomi pesantren.
Kisah Al Iman menunjukkan bahwa pesantren masa kini dapat bertransformasi menjadi pusat pendidikan holistik—menggabungkan ilmu agama, keterampilan hidup, dan inovasi berbasis sumber daya lokal. Pesantren bukan hanya tempat mengaji, tetapi juga ruang tumbuhnya kemandirian.




