Haul Tegalsari: Nggandul Sarunge Kiyai

credit: ponorogo.go.id
Di Tegalsari, haul selalu punya cara sendiri untuk membuat orang datang.

PONOROGONEWS.ID – Di Tegalsari, haul selalu punya cara sendiri untuk membuat orang datang. Jalanan penuh, parkiran meluber, doa-doa naik bersamaan dengan asap rokok dan suara sholawat. Nama Kiai Ageng Muhammad Besari disebut dengan khidmat, seolah waktu mundur sebentar, memberi ruang bagi yang hidup untuk menengok yang telah lebih dulu selesai.

Di tengah suasana itu, ada satu kalimat lama yang seperti ikut hadir tanpa diundang: nggandul sarunge kiyai.

Kalimat ini sederhana, tapi jangan buru-buru menganggapnya lugu. Ia seperti kalimat yang tahu diri, bahwa manusia sering ingin terlihat berjalan jauh, padahal diam-diam sedang mencari jalan pintas. Kalimat ini juga seperti cermin kecil: siapa pun bisa melihat dirinya sendiri di situ, meski tidak semua berani mengakuinya.

Dulu, mungkin kalimat ini lahir dari kedekatan yang benar-benar dekat. Santri tidak hanya mendengar kiai, tapi hidup bersamanya. Melihat bagaimana beliau bersikap saat dipuji, bagaimana beliau diam saat disalahpahami, bagaimana beliau tetap biasa saja di tengah hal-hal yang membuat orang lain sibuk mencari pengakuan. Tirakat dan riyadhoh bukan cerita pengantar tidur, tapi rutinitas yang kadang tidak nyaman dijalani.

Baca Juga: —  Ponorogo Bakal Pusatkan Wisata Religi di Makam Batoro Katong dan Tegalsari

Barokah, dalam suasana seperti itu, tidak datang seperti “mak jleg” yang tiba-tiba merasuk. Ia tidak jatuh dari langit dalam bentuk instan. Ia tumbuh pelan-pelan, seperti air yang merembes dari tanah: tidak terlihat, tapi menghidupi. Ia hadir dari kebiasaan meniru yang baik, dari kesediaan menahan diri, dari laku yang tidak selalu ingin disaksikan orang lain.

Menggandhul sarung, pada masa itu, bukan soal menempel. Tapi soal ikut berjalan. Kalau kiai melangkah, santri ikut melangkah—meski pelan, meski tertatih. Ada usaha, ada jarak, ada proses yang tidak bisa dipinjam.

Tapi waktu berjalan dengan caranya sendiri. Dan manusia, seperti biasa, pandai beradaptasi termasuk dalam urusan mempersingkat jalan.

Sekarang, kedekatan tidak selalu berarti kebersamaan. Ada yang merasa cukup dengan pernah nyantri, pernah sowan, pernah satu wilayah, atau sekadar sering hadir di acara seperti ini. Bahkan kadang, cukup pernah berfoto di lokasi yang sama. Sarungnya masih disebut, tapi yang digandhul sering kali bukan lagi jejak hidup, melainkan bayangannya.

Dan bayangan itu, anehnya, bisa membuat orang merasa cukup terang.

Tidak ada yang sepenuhnya salah. Semua orang ingin dekat dengan yang baik. Itu naluri yang wajar. Tapi ada satu kebiasaan kecil yang mulai terasa biasa: ingin dihormati karena dekat, bukan karena berubah.

Haul, pelan-pelan, tidak hanya menjadi ruang mengingat, tapi juga ruang memastikan posisi. Siapa dekat dengan siapa. Siapa pernah apa. Siapa merasa punya sedikit hak lebih untuk didengar.

Ada yang merasa terhormat karena menduga dirinya masih satu garis nasab. Ada yang merasa cukup karena rutin hadir setiap tahun. Ada yang merasa ikut memiliki karena pernah menyumbang. Bahkan ada yang merasa “sudah termasuk” hanya karena sering lewat daerahnya. Semua punya alasan yang terdengar masuk akal—dan justru di situlah masalahnya.

Karena yang terlalu masuk akal sering kali tidak lagi dipertanyakan.

Di titik ini, nggandul sarunge kiyai seperti berubah diam-diam. Dari jalan, menjadi tempat berhenti yang terasa cukup nyaman. Orang datang, lalu tidak melanjutkan apa-apa. Bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak merasa perlu.

Padahal, dekat dengan orang saleh tidak otomatis membuat seseorang ikut saleh. Seperti berdiri di bawah pohon rindang, kita memang tidak kepanasan, tapi ya cuma itu. Tidak ikut berakar, tidak ikut tumbuh, apalagi berbuah.

Barangkali yang jarang diakui adalah ini: tidak semua yang datang ke haul sedang mencari barokah. Sebagian mungkin hanya sedang mencari alasan untuk tetap merasa dekat tanpa harus repot berubah.

Sarungnya tetap disebut, tapi lebih sebagai atribut daripada arah. Lebih sebagai tanda pengenal daripada jalan yang harus ditempuh.

Dan di situlah ironi kecil itu bekerja dengan rapi. Di tengah doa-doa yang tulus, di antara langkah yang berdesakan menuju makam, ada kemungkinan bahwa sebagian dari kita sedang sibuk menggandhul tanpa pernah benar-benar berjalan.

Menempel, tapi tidak meniru. Dekat, tapi tidak berubah.

Barangkali ini tidak langsung terasa berbahaya. Ia halus, bahkan nyaman. Tidak ada yang menegur, tidak ada yang melarang. Semua terlihat baik-baik saja. Tapi justru karena terasa baik-baik saja, ia mudah dipelihara. Ramai saat haul, tapi sunyi saat harus berbenah diri.

Lama-lama, yang ramai bukan perubahan, tapi pengakuan yang berulang. Yang dijaga bukan laku, tapi cerita tentang kedekatan.

Dan mungkin di situlah letak kegelisahan kecil yang sering tidak sempat diucapkan. Bahwa kita kadang lebih sibuk memastikan diri terlihat dekat, daripada benar-benar mendekat.

Padahal, kalau mau jujur sedikit saja, jalan itu masih terbuka. Tirakat itu tidak ditutup. Laku itu tidak dihapus. Tapi memang tidak semua orang siap menjalani sesuatu yang tidak bisa dipamerkan.

Akhirnya, pertanyaannya tidak perlu dibuat rumit. Cukup sederhana, tapi agak mengganggu—kalau mau dipikirkan lebih lama: kita ini benar-benar sedang menggandhul sarung, atau hanya sedang mencari sarung untuk digandhuli, agar terlihat dekat, tanpa harus repot berjalan?***(ed/ar)

Author

  • khafidh

    Owner khafi.id. Dan berkeinginan mendirikan "Jobless Foundation", sebuah kelompok para pengangguran yang tetap berusaha eksis dan berusaha mempengaruhi orang agar tetap nganggur.

    Pernah beberapa kali bekerja menjadi layouter di media lokal dan selalu dipecat secara tidak hormat, karena tidak bisa disiplin. Tapi belum pernah korupsi.

    Pernah pula bercita-cita menjadi sarjana, tapi gagal.

     

Bagikan Artikel ini: