
Omah Sinom adalah tempat ngopi bagi orang-orang yang tidak terburu-buru merasa penting. Sebuah rumah luas di tepi sawah, yang mengizinkan siapa saja duduk tanpa beban untuk terlihat produktif. Di sini, hidup tidak diukur dari jumlah kerjaan yang selesai, atau dari ambisi yang sedang dikejar, tetapi dari kemampuan seseorang untuk bernapas dengan jujur.
Sejak kecil, kita sering diajari bahwa menjadi baik berarti rajin, disiplin, produktif, ikut upacara bendera, rapi, dan mengikuti aturan negara. Seolah manusia dilahirkan untuk membawa jadwal, bukan membawa diri. Kita dibesarkan untuk melunasi target yang bahkan tidak pernah kita ajukan sendiri. Namun semakin dewasa, semakin terlihat bahwa ada hari-hari ketika kita tidak ingin menyelamatkan dunia karena kita bukan Superman, dan jelas bukan Batman yang kebetulan kaya. Kita hanya ingin duduk. Diam. Mendengar angin lewat. Atau menunggu seseorang nyeletuk, “umur semono kok isih nganggur…”
Pada hari seperti itu, secangkir kopi bisa menjadi alasan paling masuk akal untuk terus hidup lama bersama rencana dan angan-angan. Sebab tidak semua orang punya kemewahan untuk mewujudkannya.
Bagi sebagian dari kita, anggota tak resmi dari perkumpulan sunyi dan tidak jelas bernama Jobless Foundation, kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah alibi sosial. Jalan tengah antara ketidakpastian hidup dan kebutuhan untuk terlihat melakukan sesuatu. Saat ada yang bertanya, “Lagi ngapain?”, kita akan tidak elok jika menjawab: “Tidak ngapa-ngapain.”
Terlalu jujur. Terlalu telanjang.
Jawaban yang lebih terhormat adalah: “Ngopi.”
Dan dengan itu, hidup tampak bergerak, meski sebenarnya tidak ke mana-mana.
Tentu, tidak semua pengunjung Omah Sinom datang dengan motif penyamaran. Ada yang sedang menulis. Ada yang bekerja. Ada yang rapat kecil dengan klien sambil berusaha terlihat meyakinkan meski transaksi kadang lebih kecil daripada biaya bensin. Ada pula yang sekadar numpang WiFi, mencari colokan, dan menunda kenyataan hidup beberapa jam.
Bagi pengunjung yang terpaksa punya mobil—sebuah kondisi yang sering kali tidak lebih membahagiakan daripada punya cicilan—Omah Sinom menyediakan parkiran yang sangat luas. Bahkan beberapa waktu lalu, sebuah truk towing pernah berhenti dengan santainya di depan warung tanpa mengganggu mobil-mobil lain yang sedang parkir. Seolah-olah tempat ini memang dirancang bukan untuk tergesa-gesa, tetapi untuk memberi ruang selapang-lapangnya, bahkan kepada kendaraan yang sedang lelah.
Di Omah Sinom, tidak ada kewajiban untuk tampil rapi atau perlente seperti tamu undangan pernikahan. Kemewahan tempat ini bukan pada penampilan pengunjungnya, melainkan pada ruang yang diberikannya bagi siapa saja, termasuk mereka yang hanya membawa badan dan uang empat ribu rupiah untuk secangkir kopi.
Omah Sinom memberi ruang untuk semuanya. Ia menerima tanpa menilai. Persis seperti namanya: sinom artinya daun muda dalam tradisi Jawa. Lunak, lentur, dan segar. Sebuah simbol bahwa hidup tidak harus keras untuk terasa benar. Rumah Sinom dalam budaya Jawa adalah rumah yang terbuka; tempat orang datang bukan karena harus, tetapi karena nyaman untuk menjadi apa adanya.
Dan entah kenapa, warung kopi seperti ini mengingatkan kita pada satu cerita yang sering beredar dengan aura romantis: bahwa Jean-Paul Sartre menemukan sebagian gagasan eksistensialismenya bukan di kelas yang sunyi atau perpustakaan yang megah, tetapi di sebuah kedai kopi kecil. Konon, hanya dua gelas espresso, sebatang rokok, dan sedikit kegelisahan yang dibutuhkan untuk memikirkan kebebasan, absurditas, serta makna hidup.
Benar atau tidaknya cerita itu tidak terlalu penting. Yang penting, ada pesan kecil yang menyelinap darinya:
Warung kopi adalah tempat di mana manusia diberi izin untuk berpikir: tentang dunia, tentang hidup, atau tentang dirinya sendiri.
Atau mungkin cerita itu hanya romantisme belaka agar kegiatan ngopi dan nganggur tampak sedikit lebih filosofis, sedikit lebih berreferensi, dan tidak terlalu menyedihkan bila dilihat orang.
Dan Omah Sinom hidup dari izin itu. Tidak mengharuskan siapa pun menjadi lebih baik. Tidak memaksa siapa pun segera berubah. Di tempat ini, seseorang boleh datang dengan seribu rencana atau tanpa rencana sama sekali. Boleh berbicara panjang, sok ilmiah hingga benar-benar ilmiah atau memilih diam. Boleh merasa gelisah atau merasa biasa saja. Sawah di sampingnya tetap menguning tepat waktunya; tidak terburu-buru menjadi siapa-siapa.
Pada akhirnya, hidup tidak selalu menuntut kita untuk bergerak cepat. Kadang kita hanya perlu duduk, menyeruput kopi, menunggu angin lewat, dan mengingat bahwa tidak apa-apa bila hari ini tidak menjadi apa-apa.
Sebab, kadang diam pun sudah cukup.
Dan di Omah Sinom, diam adalah kegiatan yang wajar.
Dan semua ketenangan itu bisa ditemukan di satu titik kecil peta: Jl. Ki Ageng Kutu, Tonatan, Ponorogo—rumah luas yang sederhana bernama Omah Sinom.



