
Ponorogo sudah sepantasnya bangga karena di daerah ini berdiri sebuah monumen tertinggi se-Indonesia. Monumen Reog, setinggi 126 meter, berdiri tegak di Gunung Gamping, Sampung, seakan ingin berkata kepada siapa saja yang lewat: “Ini rumahnya Reog.” Di sekitarnya kelak ada Museum Peradaban, tempat sejarah dan artefak Ponorogo dirawat dengan cahaya lampu yang temaram dan narasi resmi yang sudah ditulis rapi. Wisata edukatif, pelestarian budaya, dan kebanggaan lokal, semua istilah itu sudah sering mampir tiap ada proyek besar.
Dan, seperti biasa, dana yang dipakai tentu tidak sepele. Pemerintah dan swasta bergandengan tangan, dengan tujuan mulia: memperkuat identitas budaya dan menarik wisatawan.
Tapi begini, entah kebiasaan umum atau hanya bisikan kecil di kepala saya, setiap kali ada proyek besar, dugaan itu muncul sendiri: “Iki mesti anggarane gedhe, peluang ngenthit sekaligus nylinthut…” Bukan karena iri, bukan pula karena ingin mencari-cari. Itu hanya hasil dari pengalaman panjang hidup melihat proyek-proyek yang gagah di awal dan melempem di akhir. Pengalaman melihat bangunan baru dua musim hujan sudah perlu disemen ulang. Pengalaman melihat anggaran pemeliharaan yang tumbuh lebih cepat dari kuku. Pengalaman melihat hal-hal sederhana mendadak menjadi rumit ketika bersinggungan dengan uang negara.
Kecurigaan itu bukan tanda kita tidak cinta budaya. Justru sebaliknya: karena terlalu sayang. Reog adalah kebanggaan Ponorogo, nama yang sudah diakui dunia lewat UNESCO. Wajar kalau ada kekhawatiran, jangan-jangan nama besar Reog nanti hanya jadi pagar, sementara di belakangnya ditanam sesuatu yang bukan nilai, melainkan peluang. Monumennya berdiri megah, tapi ceritanya kusut. Simbolnya indah, tapi anggarannya penuh catatan kaki.
Kita semua sudah pernah melihat pola seperti itu. Bahkan mungkin terlalu sering.
Kalau mau jujur, warga kecil itu tidak minta banyak. Tidak perlu ceramah tentang struktur budaya atau teori arsitektur monumental. Tapi menarik juga, sesekali, menengok bagaimana dunia memandang monumen. Di banyak negara, monumen memang dibangun untuk menandai sejarah, memperkuat identitas, atau mengingatkan generasi. Tapi hampir tidak ada monumen yang benar-benar polos. Selalu ada ambisi yang menempel di baliknya, ambisi pejabat ingin dikenang, ambisi penguasa ingin meninggalkan “warisan”, atau ambisi daerah ingin punya simbol yang bisa terlihat dari jauh sebelum orangnya benar-benar sampai di kota.
Kalau mau sedikit memakai bahasa orang pintar: Foucault pernah bilang bahwa ruang itu bisa mengatur pikiran. Nama beliau memang ruwet, tapi maksud perkataannya sederhana: bangunan besar, letaknya strategis, bentuknya menonjol, semua itu semacam arahan halus tentang apa yang harus dianggap penting. Monumen, dengan cara yang lembut tapi pasti, sedang mengajari kita cara mengingat.
Umberto Eco, orang pintar lainnya, juga pernah bilang bahwa monumen adalah tanda. Tanda besar dan mahal, yang sedang mengatakan sesuatu: tentang budaya, tentang kekuasaan, atau tentang siapa yang ingin dikenang. Kadang yang disampaikan jelas, kadang samar, persis seperti baliho politik yang terlalu bersih untuk dipercaya.
Namun orang kampung membaca monumen dengan cara yang lebih jujur. Mereka membaca dari jumlah truk proyek yang bolak-balik, dari desas-desus tukang, dari papan informasi yang memamerkan angka besar dan wajah yang tersenyum. Mereka membaca dari aroma anggarannya, bukan dari narasi budayanya.
Maka wajar jika Monumen Reog, di mata rakyat jelata, tampak seperti simbol budaya yang manis di berita-berita advetorial, tetapi diam-diam dibaca juga sebagai ruang tempat ambisi dan uang publik berputar. Tingginya 126 meter, anggarannya bermiliar-miliar, angka-angka besar yang sulit dibayangkan orang kecil, bahkan untuk satu miliar saja. Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: apakah monumen ini benar-benar dibangun untuk Reog? Atau sekadar panggung baru untuk tampil, sementara rakyat hanya menjadi penonton yang sesekali selfie di bawahnya?
Bagi rakyat, monumen tidak lagi netral. Ia berubah menjadi tanda yang punya dua cerita: cerita tentang budaya, dan cerita tentang anggaran. Dan di banyak tempat, cerita yang kedua justru lebih sering dibicarakan.
Monumen bisa berdiri setinggi apa pun. Tapi kepercayaan rakyat? Itu bangunan lain, yang fondasinya jauh lebih sulit dan sering kali tidak pernah masuk dalam gambar rancangan.
Dan… eh… iya… ada satu hal yang tadi hampir kelupaan. Belakangan negeri ini memang sedang demam proyek mangkrak. IKN, misalnya baru dibangun setengah, tapi sudah mulai ditinggal setengah hati. Jadi kalau rakyat kecil langsung curiga melihat proyek besar, ya mohon dimaklumi. Mereka hanya memakai logika sederhana: kalau yang di pusat saja bisa tersendat, apalagi yang di kampung?
Lagipula, rakyat itu tidak pandai membaca blueprint. Yang mereka baca cuma pola. Dan sayangnya, pola itu tidak pernah benar-benar berubah.




