Hikmah di Balik Tertangkapnya Sugiri

Sugiri Sancoko Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Korupsi Jual Beli Jabatan di Lingkup Pemerintahan Kabupaten Ponorogo

Terus terang, saya sempat ragu menulis tentang kasus Sugiri. Bukan karena takut keliru atau dianggap membela, tetapi karena Sugiri—di mata banyak warga Ponorogo—bukan sosok yang pantas diputuskan bersalah hanya karena satu peristiwa. Selama menjabat sebagai pemimpin daerah, ia dikenal merakyat, mau turun ke lapangan, dan tidak menunjukkan sikap “kemlinthi” sebagaimana stereotype pejabat pada umumnya. Dan percayalah…! saya bukanlah salah satu orang yang pernah merasa diuntungkan atau dirugikan olehnya. Karena itu, saya masih mampu melihatnya sebagai manusia yang utuh, dengan terang dan gelapnya sendiri.

Namun bagaimanapun, korupsi tetaplah korupsi. Ia salah, siapa pun pelakunya. Tidak ada citra merakyat atau kedekatan sosial yang cukup untuk menutupi itu. Hukum harus bekerja. Kesalahan tetap kesalahan, dan itu harus diterima apa adanya.

Baca Juga: —  Nyoblos Sembarangan Bisa Menyebabkan Banjir, Tanah Longsor, dan Kerusakan Lingkungan

Di titik ini, saya teringat satu kalimat dari Solon, filsuf Yunani yang konon pernah berkata, “Tidak ada manusia yang pantas dipuji sebelum ia diuji oleh kekuasaan.” Kutipan itu muncul begitu saja di kepala saya ketika mendengar kabar ini—bukan untuk merendahkan Sugiri, tetapi sebagai pengingat bahwa kekuasaan memang sering kali membuka sisi manusia yang sebelumnya tersembunyi. Ada orang yang berubah karena jabatan, ada pula yang tampak baik sampai akhirnya keadaan menguji batas-batas dirinya. Dan bukankah kita semua, dalam kadar masing-masing, pernah diuji oleh hal-hal yang tak kita duga?

Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa manusia selalu membawa dua sisi dalam dirinya. Kita punya potensi untuk berbuat baik, tetapi juga ruang untuk melakukan kesalahan. Tidak ada yang sepenuhnya putih. Hidup membawa kita berjalan di antara keduanya—dipengaruhi oleh keadaan, godaan, dan pilihan yang kita buat setiap hari.

Selama masa kepemimpinan Sugiri, saya melihat ada orang-orang di sekelilingnya yang tampak begitu yakin pada posisi mereka. Beberapa kawan yang sebelumnya biasa saja mendadak bertingkah seolah kedudukannya tak mungkin tergeser. Saya yang hanya seorang pengangguran biasa tiba-tiba dipandang sebelah mata, seolah keberadaan saya tidak lagi bernilai. Mereka lupa bahwa angin keberuntungan tidak pernah bertiup ke satu arah selamanya. Hari ini mendukung, besok bisa berubah menghadang. Dan ketika arah angin itu berganti, seseorang yang merasa paling aman bisa tiba-tiba “oling” tanpa tahu harus berpegangan pada apa.

Baca Juga: —  Kutukan Wahabi Lingkungan

Ada juga seorang pemuka agama yang karena kedekatannya dengan kekuasaan merasa kehendaknya selalu mudah terwujud. Langkahnya ringan, ucapannya didengar, dan pintu-pintu terbuka untuknya. Namun kejadian ini menunjukkan bahwa dekat dengan kekuasaan tidak berarti menguasai keadaan. Kekuasaan itu seperti tamu: datang sebentar, lalu berpindah tanpa pamit panjang. Mereka yang terlalu bersandar padanya bisa ikut goyah ketika tamu itu pergi.

Tidak ketinggalan beberapa orang yang selama ini mengharap “donasi” dari Sugiri—seolah ia adalah ATM berjalan—kini harus kembali ke setelan pabrik. Mereka kembali menjalani hidup sebagaimana sebelum Sugiri memimpin; kembali mengumpulkan seribu-dua ribu rupiah seperti kawan-kawan lamanya dulu. Mungkin sedikit kaget, mungkin sedikit malu, mungkin juga baru sadar bahwa kemudahan yang dinikmati dulu bukanlah hak, melainkan sekadar bonus dari arah angin politik.

Pada akhirnya, pelajaran yang saya tangkap dari semua ini bukan sekadar tentang benar dan salah, tetapi tentang cara kita menempatkan manusia. Mengapresiasi yang baik itu perlu, mengingatkan yang salah itu penting, tetapi semuanya harus dilakukan tanpa fanatisme dan tanpa kebencian. Kita tidak perlu meninggikan manusia secara berlebihan, dan tidak perlu pula merendahkannya lebih dari layak.

Baca Juga: —  Kualitas Pertalite Buruk, Cara Pemerintah Menghapus Subsidi BBM?

Hidup bergerak dengan cara yang kadang tidak terduga. Hari ini seseorang dipuji, besok ia bisa dipanggil aparat hukum. Hari ini seseorang merasa kuat, besok ia mungkin kehilangan pijakan. Dan mungkin—di balik peristiwa yang pahit sekalipun—kita diajak untuk terus rendah hati, terus jernih, dan terus menyadari bahwa angin hidup tidak pernah betul-betul berada dalam genggaman siapa pun.

Author

  • khafidh

    Owner khafi.id. Dan berkeinginan mendirikan "Jobless Foundation", sebuah kelompok para pengangguran yang tetap berusaha eksis dan berusaha mempengaruhi orang agar tetap nganggur.

    Pernah beberapa kali bekerja menjadi layouter di media lokal dan selalu dipecat secara tidak hormat, karena tidak bisa disiplin. Tapi belum pernah korupsi.

    Pernah pula bercita-cita menjadi sarjana, tapi gagal.

     

Bagikan Artikel ini: