
PONOROGONEWS.ID – Suasana kawasan Monumen Reog dan Museum Peradaban (MRMP) di Kecamatan Sampung, Ponorogo, tampak semakin hidup menjelang tutup tahun. Meski pembangunan monumen ikonik setinggi 126 meter itu belum sepenuhnya rampung, arus kunjungan wisatawan terus mengalir.
Ramainya pengunjung turut memunculkan denyut ekonomi baru dengan berdirinya puluhan lapak pedagang di sekitar kawasan monumen.
Sepanjang akhir pekan dan masa libur, area sekitar MRMP dipadati wisatawan lokal maupun luar daerah. Kondisi ini dimanfaatkan warga sekitar dengan membuka berbagai usaha, mulai dari kuliner hingga jasa parkir.
Lapak-lapak sederhana berjajar di lahan sekitar monumen, menghadirkan wajah baru MRMP sebagai ruang wisata sekaligus ruang ekonomi rakyat.
Ricky, salah satu warga setempat, mengaku merasakan langsung dampak positif dari meningkatnya kunjungan wisata.
Ia membuka warung soto ayam yang kini semakin ramai didatangi pembeli, terutama saat hari libur.
“Kalau Sabtu, Minggu, atau libur nasional pengunjung jauh lebih banyak. Kadang sampai malam masih ramai, jadi warung saya juga buka lebih lama,” ujarnya dikutip dari laman resmi Kabupaten Ponorogo.
Menurut Ricky, sebagian besar pedagang yang berjualan di kawasan MRMP merupakan warga sekitar.
Mereka melihat kehadiran monumen sebagai peluang untuk meningkatkan penghasilan. Apalagi, saat digelar pasar malam atau kegiatan tertentu, jumlah pengunjung biasanya melonjak tajam. “Kalau ada event, pasti makin ramai,” katanya.
Kehadiran wisatawan juga membawa berkah bagi penyedia jasa parkir. Mbah Mencok, salah seorang juru parkir di kawasan MRMP, mengaku kini memiliki penghasilan rutin sejak monumen ramai dikunjungi. Ia mengatur parkir di beberapa titik menyesuaikan kepadatan pengunjung.
“Kadang di sisi timur, kadang barat, tergantung ramai di mana. Yang parkir dan jualan di sini memang warga sekitar,” jelasnya.
Ia menambahkan, para pedagang dan juru parkir telah tergabung dalam sebuah paguyuban yang mengurus perizinan melalui pihak kecamatan. Aktivitas wisata di MRMP pun kerap berlangsung hingga malam hari.
“Ada pengunjung yang datang sampai sekitar jam 10 malam. Banyak juga yang datang dari luar Ponorogo,” ungkapnya.
Dari sisi pengunjung, MRMP dinilai cukup menarik meski pembangunannya belum sepenuhnya selesai. Wagiyah, wisatawan asal Ngunut, Babadan, mengaku antusias bisa berkunjung langsung ke kawasan monumen tersebut.
“Ini pertama kali saya datang ke sini. Selama ini hanya lihat dari foto atau video. Kebetulan ada wisata RT, jadi sekalian ikut,” tuturnya.
Datang bersama rombongan menggunakan kereta kelinci, Wagiyah menilai kawasan MRMP sudah cukup nyaman untuk berjalan-jalan dan berfoto.
Keberadaan pedagang juga menjadi nilai tambah bagi wisatawan. “Bisa foto-foto dan jajan, jadi lebih seru,” katanya.
Meski demikian, Wagiyah berharap ke depan lingkungan sekitar MRMP bisa dibuat lebih rindang dengan penambahan pepohonan. Ia juga menilai akses jalan menuju lokasi sudah cukup baik, meski masih terdapat beberapa kekurangan.
“Mungkin karena pembangunannya belum selesai semua. Tapi secara umum sudah bagus,” pungkasnya.***




