Satgas Penghijauan Ponorogo Catat Hasil Nandur Panguripan, Siapkan Strategi Lanjutan Hadapi Musim Hujan

Monitoring dan evaluasi program unggulan Pemkab Ponorogo Nandur Panguripan. (Foto: Kominfo)

PONOROGONEWS.ID – Pemerintah Kabupaten Ponorogo memiliki program unggulan dalam menjaga kelestarian lingkungan yakni Nandur Panguripan. Program ini saat ini sudah memasuki tahap monitoring dan evaluasi (monev).

Dalam pelaksanaannya, Nandur Panguripan melibatkan lintas sektor, mulai dari perangkat daerah, petani penggarap, komunitas hijau, Perhutani, hingga Kementerian Agama. Tujuan kerjasama lintas sektor ini adalah untuk meninjau hasil pelaksanaan sekaligus merancang langkah lanjutan dalam upaya penghijauan yang berkelanjutan.

Ketua Satgas Penghijauan Ponorogo, Bambang Suhendro, mengatakan monev menjadi sarana refleksi sekaligus penyempurnaan program yang telah berjalan sejak Maret lalu.

Baca Juga: —  Cegah Bencana, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko Ajak Warga Jaga Keseimbangan Alam

“Evaluasi ini untuk penyempurnaan dan perbaikan, untuk berkaca. Dulu sebelum adanya satgas penghijauan tanaman yang hidup hanya 1%, tapi setelah ada Satgas, presentasenya naik jadi 52%. Namanya meningkat, tapi itu tidak membuat kita bangga. Dari yang hidup 52% itu harus meningkat lagi, harus lebih baik,” ungkapnya ketika membuka kegiatan Monev Nandur Panguripan di Pendopo Taman Wengker, Selasa (04/11/2025).

Lebih lanjut Bambang menjelaskan hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pada tingkat keberhasilan tanaman hasil gerakan penghijauan. Namun, menurutnya, capaian ini bukan alasan untuk berpuas diri, melainkan dorongan untuk bekerja lebih keras. Ia menambahkan pentingnya monitoring rutin dan aksi nyata di lapangan agar seluruh data benar-benar akurat.

“Program penghijauan ini bukan hal baru, tapi Pak Bupati tidak ingin seperti masa lalu. Sekarang kita bicara berdasarkan data dan aksi nyata di lapangan agar Ponorogo benar-benar hijau,” ujar Bambang kepada wartawan.

Baca Juga: —  Kang Giri Sebut Tambang Pasir di Gunung Wilis Penyebab Banjir di Musim Hujan

Tak hanya peningkatan data keberhasilan tanam, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penghijauan juga mulai tumbuh. Perangkat daerah pun turut aktif dalam pengajuan bibit maupun partisipasi langsung dalam kegiatan penanaman.

“Selain indikator persentase kehidupan tanaman, ada juga indikator perubahan kebiasaan masyarakat. Sekarang masyarakat mulai peduli, mulai sadar pentingnya penghijauan. Dari PD pun mulai aktif meminta bibit, bahkan memberikan sendiri. Ini menunjukkan peningkatan mindset lingkungan,” ujarnya.

Saat ini, Satgas Penghijauan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan komunitas hijau sedang menyiapkan langkah lanjutan menghadapi musim penghujan. Sedikitnya 8.400 bibit pohon berbagai jenis telah siap ditanam di sejumlah wilayah.

Bibit tersebut berasal dari berbagai kegiatan seperti program Bupati Ponorogo saat pelantikan PPPK sebanyak 220 pohon, peringatan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo sekitar 190 pohon, serta persiapan dari DLH sebanyak 8.000 pohon.

“Total ada sekitar 8.400 pohon siap tanam untuk musim hujan ini. Semangat kita tidak bergantung pada hujan. Kalau dikerjakan dengan sungguh-sungguh, pohon akan hidup, bahkan di luar musim penghujan,” tuturnya.

Baca Juga: —  Manfaat Ponorogo Gabung ICH dan UCCN UNESCO, Penguatan Ekonomi hingga Peluang Kerja Sama

Ia menjelaskan, langkah pertama yang akan dilakukan adalah penggantian tanaman mati dengan yang baru, kemudian melanjutkan penanaman di lokasi-lokasi baru yang telah dipetakan DLH bersama komunitas. Penanaman ini dijadwalkan berlangsung dari akhir November hingga Desember 2025. Bambang juga menekankan pentingnya pemilihan jenis tanaman yang sesuai karakter wilayah.

“Konsep penghijauan tidak bisa asal hijau. Tanaman harus disesuaikan dengan karakter daerah. Di dataran tinggi, misalnya, sebaiknya ditanam tanaman berakar kuat agar mampu mengikat tanah,” jelasnya.

Salah satu lokasi prioritas dalam program ini adalah Desa Ngindeng, yang diharapkan berkembang menjadi wisata petik buah berbasis konservasi lingkungan. Pemerintah desa telah menyediakan lahan aset desa sebagai demplot atau lahan percontohan tanaman buah, yang nantinya bisa menjadi inspirasi bagi desa lain.

“Ngindeng ini potensial menjadi wisata petik buah karena ada bendungan yang sudah menjadi daya tarik wisata. Kita lengkapi dengan ruang terbuka hijau di tiap desa,” pungkas Bambang.***

Author

  • Arini Sa'dah

    A passionate and detail-oriented content writer professional with a strong background in journalism and digital media.

Bagikan Artikel ini: