
PONOROGONEWS.ID – Penggunaan gadget yang tidak terkontrol semakin menjadi alarm bagi kesehatan mental remaja. Di Ponorogo, fenomena ini terlihat semakin nyata seiring meningkatnya ketergantungan terhadap perangkat digital.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RSUD dr Harjono Ponorogo, Andri Nurdiyana Sari, menegaskan bahwa kecanduan gadget bukan hanya persoalan kebiasaan, tetapi bisa berujung pada kecemasan, depresi, bahkan gangguan psikotik.
“Masalah muncul ketika kebiasaan menggunakan gadget terutama dalam bermain game menjadi ketergantungan. Kalau sehari biasanya tiga jam, naik jadi enam jam atau sembilan jam, dan ketika tidak pegang HP (handphone) merasa gelisah. Itu sudah tanda craving,” jelas Andri dikutip dari laman resmi Kabupaten Ponorogo.
Andri menjelaskan bahwa smartphone, laptop, tablet, hingga smartwatch telah menjadi bagian dari keseharian remaja. Fungsi perangkat yang beragam membuat remaja semakin sulit melepaskan diri dari layar.
“Seperti dua sisi mata pisau yang sama-sama tajam. Di satu sisi memberi kemudahan dan hiburan, tapi disisi lain bisa menimbulkan kerugian kalau tidak bijak menggunakannya,” ungkapnya.
Dampak pada kesehatan mental pun terlihat dari perubahan perilaku. Remaja yang kecanduan gadget mulai menarik diri dari interaksi sosial, menunjukkan kecemasan bila jauh dari ponsel, hingga mengabaikan kewajiban seperti sekolah, hobi, atau aktivitas positif lainnya.
“Remaja yang mengalami ketergantungan biasanya mulai mengabaikan kewajiban mereka seperti sekolah, hobi, atau aktivitas menyenangkan lainnya,” ujar Andri.
Beberapa kasus bahkan masuk kategori berat. Andri menyebut ada pasien remaja yang mengalami halusinasi akibat terlalu larut dalam permainan digital.
“Ada pasien yang sampai merasa seperti hidup di dalam game. Berbicara seperti karakter game, menembak-nembak imajiner, ini sudah masuk gejala psikotik,” imbuhnya.
Dalam kondisi ekstrem, pembatasan penggunaan gadget bisa memicu perilaku agresif. Mulai dari membanting ponsel, mengancam orang tua, hingga nekat melakukan tindakan yang membahayakan. Media sosial juga menjadi sumber risiko tambahan karena membuka pintu tekanan psikologis.
“Selain kecanduan game, penggunaan gadget juga memudahkan remaja terpapar media sosial yang bisa berdampak signifikan pada kesehatan mental mereka,” terang Andri.
Di platform digital, remaja rentan mengalami FOMO, tekanan sosial, hingga terjebak dalam budaya konsumtif dan obsesi penampilan.
Situasi makin berbahaya ketika mereka menjadi sasaran manipulasi oleh pihak tak dikenal.
“Ada yang di-DM orang tak dikenal, dipaksa video call, bahkan diancam untuk menyebarkan foto mereka. Itu bisa membuat remaja depresi berat,” rincinya.
Untuk menangani kondisi ini, Andri menerapkan cognitive behavior therapy (CBT) untuk memperbaiki pola pikir dan kebiasaan penggunaan gadget. Remaja dibimbing menjalani jadwal pemakaian yang terstruktur.
“Tapi kalau sudah disertai gangguan mood, kecemasan, atau psikotik, dokter akan menambahkan resep obat untuk menstabilkan kondisi mental pasien,” ucapnya.
Peran orang tua menjadi kunci. Pendampingan, edukasi sejak dini, dan kesepakatan penggunaan gadget penting untuk mencegah remaja terjerumus lebih jauh.
“Pengawasan penting, tapi jangan sampai anak merasa tidak dipercaya. Kalau merasa diawasi berlebihan, mereka justru memprivat akun atau memblokir orang tua di status WA atau Instagram story,” tuturnya.***



