Perkuat Status Kota Kreatif Dunia UNESCO, Ponorogo Siapkan Tiga Program Strategis

emerintah Kabupaten Ponorogo lekas menyiapkan tiga langkah strategis untuk memperkuat posisi Ponorogo sebagai Kota Kreatif Dunia. (Foto: Istimewa)

PONOROGONEWS.ID – Menjadi bagian dari UNESCO Creative Cities Network (UCCN) kategori Craft and Folk Arts adalah tanggungjawab besar bagi Ponorogo. Oleh karenanya, Pemerintah Kabupaten Ponorogo lekas menyiapkan tiga langkah strategis untuk memperkuat posisi Ponorogo sebagai Kota Kreatif Dunia.

Fokus utama dari program strategis ini ditujukan pada penguatan ekosistem kreatif berbasis seni Reog dan budaya lokal yang menggambarkan identitas kabupaten ini. Hal itu disampaikan Veri Setiawan selaku Focal Point UCCN Ponorogo.

“Kami menyiapkan tiga program utama untuk memperkuat ekosistem kreatif berbasis Reog. Ketiganya akan berfokus pada pengembangan kegiatan budaya, riset, serta pembangunan kawasan kreatif terpadu yang melibatkan komunitas dan pelaku usaha lokal,” jelas Veri, Rabu (05/11/2025) lalu.

Salah satu langkah konkret yang segera direalisasikan adalah penyelenggaraan Pasamuan Agung Reog Tanah Air, yang nantinya akan menjadi agenda tahunan berskala nasional hingga internasional.

Baca Juga: —  Ini Kunci Sukses Ponorogo dan Malang Bisa Tembus Jaringan Kota Kreatif Dunia UNESCO

“Pasamuan Agung direncanakan berlangsung di kawasan Telaga Ngebel, yang tengah dikembangkan sebagai destinasi budaya dan wisata unggulan. Ini akan menjadi simbol penguatan Ponorogo sebagai pusat seni pertunjukan rakyat dunia dan mempertegas identitas kita di jaringan kota kreatif dunia,” jelas Veri.

Program strategis kedua yang tengah disiapkan adalah merampungkan pembangunan Monumen Reog dan Museum Peradaban (MRMP) yang menjadi bagian dari kawasan industri kreatif terpadu. Lokasi ini akan difungsikan sebagai pusat pelestarian dan pengembangan seni tradisional, termasuk kerajinan khas seperti bone craft dan keramik Sampung yang sempat populer di masa lalu.

“Berikutnya adalah pengembangan monumen dan museum Reog yang ada di Sampung yang akan menjadi menjadi ikon baru bagi kota kreatif Ponorogo,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Ponorogo juga akan menjadi tuan rumah Forum Kajian Seni Pertunjukan dan Literasi Regional, yang melibatkan sejumlah kota kreatif dari kawasan Asia Tenggara. Forum ini akan mengangkat kisah Panji sebagai Memory of the World, sekaligus memperluas jejaring kerja sama antar anggota UCCN di kawasan Asia Pasifik.

Baca Juga: —  Kolaborasi Heksaheliks, Kunci Keberhasilan Malang dan Ponorogo Masuk Jaringan Kota Kreatif Dunia UNESCO

“Melalui forum ini, kita ingin menjadikan Ponorogo sebagai pusat diskursus budaya dan seni pertunjukan yang diakui secara internasional,” tutur Veri.

Untuk memperkuat kolaborasi dan promosi karya lokal, Pemkab Ponorogo juga menyiapkan platform CRAFT (Creative Reog Art Festival on Tradition) yang akan menjadi wadah kegiatan seni, workshop, dan pameran. Melalui CRAFT, para pelaku UMKM, pengrajin, dan komunitas seni akan berkolaborasi dalam satu agenda besar yang menampilkan kekayaan budaya Ponorogo.

“Kerajinan Ponorogo tidak hanya Reog, tetapi juga batik dan berbagai produk kriya lainnya. Semua akan dikolaborasikan dalam satu event besar untuk memperkuat identitas Ponorogo sebagai Kota Kreatif Dunia,” jelasnya.

Veri menambahkan, seluruh program tersebut akan dijalankan dengan sinergi antara Pemerintah Daerah, akademisi, komunitas, dan pelaku industri kreatif. Ponorogo juga aktif menjalin koordinasi dengan focal point UCCN dari berbagai negara seperti Korea Selatan, Jepang, Thailand, dan Australia. Pertemuan rutin antaranggota menjadi sarana berbagi praktik terbaik serta penyusunan laporan tahunan kepada UNESCO.

Baca Juga: —  Manfaat Ponorogo Gabung ICH dan UCCN UNESCO, Penguatan Ekonomi hingga Peluang Kerja Sama

“Harapannya, status Kota Kreatif Dunia ini tidak hanya menjaga keberlangsungan budaya Reog, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi kreatif. Budaya bisa menjadi kekuatan ekonomi dan kekuatan diplomasi,” tegasnya.

Dengan tiga program strategis ini, Pemkab Ponorogo berkomitmen mewujudkan keberlanjutan status Kota Kreatif Dunia UNESCO. Bersama 28 kota lainnya di kategori Craft and Folk Arts, Ponorogo berupaya menjadikan seni Reog dan produk budaya lokal sebagai kekuatan diplomasi dan pendorong ekonomi masyarakat.

“Harapannya, ekonomi kreatif Ponorogo terus meningkat. Banyak pengrajin Reog yang sudah meng-ekspor dan dapat dijadikan sebagai diplomasi budaya yang sudah berjalan seperti ke Eropa, Amerika, hingga Asia mengenal Reog sebagai identitas Ponorogo,” tandasnya.

Author

  • Arini Sa'dah

    A passionate and detail-oriented content writer professional with a strong background in journalism and digital media.

Bagikan Artikel ini: