Dalam obrolan sehari-hari, seringkali ada dikotomi antara “orang yang bekerja” dan “ibu rumah tangga”. Sebutan yang pertama dianggap produktif, menghasilkan uang, dan memiliki karier. Sebaliknya, sebutan yang kedua seolah dianggap tidak bekerja, hanya ‘di rumah saja’.
Anggapan tersebut tampak sepele, namun tahukah Anda jika dikotomi ini memiliki akar panjang dalam bias struktural sosial kita yang telah lama ‘sangat’ merugikan perempuan.
Pekerjaan domestik seperti mencuci baju, membersihkan rumah, menyiapkan makanan, hingga merawat anak, sering dianggap tugas alamiah perempuan. Karena itulah semua pekerjaan tersebut tidak layak disebut sebagai “pekerjaan”. Padahal tanpa kerja-kerja sunyi itu, kehidupan sehari-hari akan berjalan pincang.
Sebenarnya saya enggan mengambil teori dalam kerangka feminisme, sebab sudah lama saya tidak mempelajarinya. Namun geregetan jika tidak saya ungkapkan dalam tulisan singkat ini.
Dalam kajian feminisme, pekerjaan domestik termasuk kategori unpaid care work. Artinya kerja perawatan yang tak digaji, tak diakui sebagai kontribusi ekonomi, namun menjadi pondasi berjalannya kehidupan sosial. Banyak dari masyarakat kita cenderung lupa bahwa produktivitas seseorang di ruang publik sangat bergantung pada kestabilan ruang domestik. Tanpa ruang domestik yang stabil, seorang anak akan kesulitan belajar, seorang ayah akan tidak tenang bekerja.
Anda bisa belajar, bekerja, atau berkarya dengan tenang karena makanan telah disiapkan, pakaian dicuci, rumah dibersihkan, dan anaknya dirawat. Ironisnya, seorang ibu yang melakukan semua pekerjaan itu justru sering dianggap tidak berkontribusi secara ekonomi.
Saya yakin ibu rumah tangga di luar sana yang bekerja dari pagi buta hingga malam, tanpa hari libur, tanpa bonus, tanpa cuti, dan tanpa penghargaan sosial. Meski hanya di rumah, jujur aktivitas domestik sangat menuntut tenaga fisik, konsentrasi, dan emosi yang besar. Tetapi karena tidak terikat kontrak kerja dan tidak menghasilkan uang, ia diletakkan di peringkat paling bawah dalam hirarki pekerjaan.
Bahkan, ketika perempuan memilih menjadi ibu yang ‘bekerja’ di ruang publik, mereka masih harus melanjutkan shift kedua saat pulang ke rumah: memasak, menyapu, mencuci, hingga mengurus anak.
Inilah yang disebut Betty Friedan, seorang aktivis feminist Amerika, sebagai double burden, yakni beban ganda yang secara tidak proporsional ditanggung perempuan.
Ketika pekerjaan domestik tetap dianggap remeh, maka ketidakadilan gender akan terus berlangsung. Selama rumah dipandang sebagai wilayah perempuan semata, laki-laki tidak akan terdorong untuk terlibat secara setara.
Padahal pembagian kerja domestik yang adil tak hanya meringankan beban perempuan, tetapi juga membentuk relasi keluarga yang lebih sehat, egaliter, dan penuh empati. Keterlibatan laki-laki dalam kerja domestik bukanlah “membantu”, melainkan mengambil tanggung jawab bersama.
Jadi stop mengatakan “suami membantu istri”, melainkan “suami dan istri bersama-sama melakukan pekerjaan rumah tangga sebagai tanggungjawab keduanya”.
Mengubah cara pandang terhadap pekerjaan domestik bukan sekadar urusan feminisme, tetapi urusan kemanusiaan. Kita perlu mulai menyebutnya sebagai “kerja”, mengakuinya sebagai kontribusi penting, dan menempatkannya dalam nilai sosial yang sepadan.
Penghargaan terhadap kerja domestik bukan hanya bentuk apresiasi kepada para ibu rumah tangga, tetapi juga langkah penting untuk mewujudkan masyarakat yang lebih adil dan bahagia.
Perempuan tak seharusnya memikul dunia sendirian di dalam rumah. Sudah waktunya kerja domestik dilihat, dihargai, dan dibagi.





