
Di era media sosial, kita hidup di tengah arus informasi dan opini yang menyebar sangat cepat. Setiap hari, ponsel kita dipenuhi notifikasi unggahan, pembaruan status, cuitan, dan video.
Sebagian diantaranya berisi data faktual, tetapi tidak sedikit pula yang hanya berupa asumsi atau penilaian subjektif yang dikemas seolah-olah ilmiah, tanpa proses penyaringan maupun verifikasi dari sumber yang dapat dipercaya.
Dalam situasi semacam ini, kerap kali kita melupakan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh kecepatan penyebaran informasi, melainkan oleh bagaimana informasi tersebut diuji, dianalisis secara rasional, dan dikontekstualisasikan melalui metodologi ilmiah yang sahih.
Fenomena ini bukan semata persoalan “siapa yang paling populer di linimasa”, melainkan menyangkut cara pengetahuan dan klaim kebenaran dibentuk di ruang publik. Untuk memahami persoalan tersebut, kita perlu menengok filsafat ilmu.
Filsafat ilmu membantu kita mengembangkan cara berpikir kritis dan logis, sehingga mampu membedakan antara opini, informasi, dan pengetahuan yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, kita tidak sekadar menjadi konsumen informasi, melainkan subjek yang sadar dan kritis.
Secara sederhana, filsafat ilmu pengetahuan merupakan cabang filsafat yang membahas pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang ilmu: apa yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan, bagaimana manusia dapat mengetahui sesuatu secara ilmiah, serta apa perbedaan antara pengetahuan ilmiah dan pendapat biasa.
Melalui refleksi dan analisis kritis, filsafat ilmu membantu kita memahami bagaimana ilmu bekerja dan mengapa metode ilmiah, seperti pengamatan, eksperimen, serta pemeriksaan fakta, menjadi syarat penting dalam menghasilkan pengetahuan yang dapat dipercaya. Dengan kata lain, filsafat ilmu tidak hanya membahas apa yang kita ketahui, tetapi juga bagaimana dan mengapa sesuatu layak disebut sebagai pengetahuan ilmiah.
Media sosial membuka ruang bagi siapa saja untuk menyampaikan pendapat secara cepat dan luas. Namun, kondisi ini juga memunculkan apa yang kerap disebut sebagai pseudo-kebenaran, yakni informasi yang viral dan dianggap benar meskipun belum diverifikasi.
Konten yang bersifat opini atau emosional cenderung lebih cepat menyebar dibandingkan penjelasan berbasis data dan analisis ilmiah. Algoritma media sosial bahkan sering memprioritaskan konten yang memicu emosi, seperti kemarahan, ketakutan, atau simpati, karena dinilai lebih menarik perhatian.
Akibatnya, banyak orang menyamakan opini yang populer dengan pengetahuan ilmiah, padahal keduanya memiliki dasar epistemologis yang berbeda. Di sinilah filsafat ilmu berperan penting sebagai kerangka berpikir untuk membedakan antara opini, informasi, dan pengetahuan ilmiah.
Mempelajari filsafat ilmu menjadi penting untuk menumbuhkan sikap kritis di era media sosial. Melalui filsafat ilmu, kita dilatih untuk membedakan informasi yang telah diuji dengan informasi yang masih bersifat klaim sepihak, serta memisahkan opini dari fakta ilmiah.
Filsafat ilmu juga mengajarkan kehati-hatian dalam menerima atau menolak suatu informasi, sekaligus menyadarkan kita akan keterbatasan informasi instan yang beredar di ruang digital. Pengetahuan ilmiah tidak semata-mata soal data dan fakta, melainkan juga menyangkut cara data tersebut diperoleh, diuji, dan disampaikan secara bertanggung jawab.
Tantangan terbesar di era media sosial bukan hanya melimpahnya informasi, tetapi kemampuan kita untuk memilah dan menilai informasi tersebut secara kritis.
Tanpa kemampuan ini, masyarakat mudah terjebak pada informasi viral yang belum tentu memiliki dasar ilmiah yang kuat. Oleh karena itu, pendidikan yang melatih cara berpikir kritis, pemahaman terhadap metode ilmiah, serta kesadaran epistemologis menjadi semakin penting.
Filsafat ilmu pengetahuan memberikan landasan bagi upaya tersebut. Dengan memahaminya, masyarakat dapat lebih mengerti bagaimana pengetahuan ilmiah dibentuk dan diuji, sehingga tidak menjadi penerima informasi yang pasif.
Hubungan antara sains, opini, dan media sosial mengajarkan bahwa informasi yang cepat dan populer belum tentu benar. Filsafat ilmu hadir sebagai panduan untuk menyaring informasi di era digital, sekaligus menegaskan bahwa ilmu pengetahuan lahir dari proses berpikir rasional dan pengujian yang matang.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip filsafat ilmu dalam kehidupan digital, kita tidak hanya menjadi pengguna media sosial yang lebih bijak, tetapi juga warga digital yang berpikir jernih, kritis, dan bertanggung jawab.***
Penulis: Sasmita Rokhimaya mahasiswa PPKn Universitas Muhammadiyah Ponorogo tertarik mengkaji filsafat ilmu literasi media dan dinamika opini publik di media sosial sebagai bekal berpikir kritis dalam pendidikan kewarganegaraan era digital masa kini Indonesia kontekstual.




