Opini

Pengadilan Rakyat untuk Jalan Rusak

Indonesia secara umum, dan Ponorogo secara khusus, tampaknya memiliki satu penyakit menahun yang selalu kambuh meski sudah berkali-kali “diobati”. Penyakit itu bukan hanya korupsi yang sudah dianggap semacam ritual yang mesti dilakukan bagi para pejabat, tetapi juga jalan rusak yang rusaknya selalu cepat, dan cepat rusaknya itu pun sering kali karena… korupsi juga. Semacam hubungan […]

Bagikan Artikel ini:

Pengadilan Rakyat untuk Jalan Rusak Read More »

Teori Konspirasi dalam MBG

Disclaimer: tulisan ini hanya teori konspirasi. Tidak ada ilmiah-ilmiahnya, tidak bisa dijadikan dalil kebenaran, dan tidak layak dipakai untuk ujian, sidang skripsi, apalagi klarifikasi presiden. Jadi mohon jangan dipercaya. Lagi pula, di negeri ini, kebenaran hanya milik pemerintah… eh, maaf—Tuhan maksudnya. Di negara maju, negara yang manja itu, makanan adalah soal standardisasi: berapa suhu penyimpanan,

Bagikan Artikel ini:

Teori Konspirasi dalam MBG Read More »

Menjadi Guru: Antara Profesionalitas dan Formalitas

Dulu, sewaktu SD, kami sekelas pernah ditanya soal cita-cita oleh guru. Pertanyaannya sederhana, seperti pertanyaan yang muncul tiap tahun ajaran baru: “Kelak mau jadi apa?” Saya, dengan kejujuran seorang bocah yang belum mengenal hirarki kemuliaan profesi, menjawab, “Saya ingin menjadi tukang becak.” Di mata saya waktu itu, tukang becak adalah pekerjaan yang sangat logis: gowes

Bagikan Artikel ini:

Menjadi Guru: Antara Profesionalitas dan Formalitas Read More »

Doa Politik yang Terkadang Blunder

Ponorogo itu unik—setidaknya menurut sebagian warganya sendiri. Reog misalnya: sebuah kesenian berupa tari topeng, tetapi topengnya gedhine ora ndlomok, mungkin salah satu yang terbesar di dunia. Sebuah seni yang membuat Ponorogo merasa berbeda, atau dalam bahasa yang lebih sederhana: ora enek sing madani. Belum lagi sejarah negeri ini yang diam-diam banyak dimulai dari kota ini.

Bagikan Artikel ini:

Doa Politik yang Terkadang Blunder Read More »

Andai Ipong Jadi Bupati, Apakah Lebih Baik dari Sugiri?

Masih hangat pembicaraan soal OTT KPK terhadap Bupati Ponorogo di media sosial. Ya… masih hangat-hangat —maaf— tai ayam: tajam di awal, lalu hilang dalam waktu sekejap. Lima hari lagi, sebagian besar orang akan kembali sibuk dengan rutinitas, seolah peristiwa itu hanya jeda kecil dalam drama online mereka. Kecuali, tentu saja, bagi mereka yang memang pekerjaannya

Bagikan Artikel ini:

Andai Ipong Jadi Bupati, Apakah Lebih Baik dari Sugiri? Read More »

Beda Nasib Bupati Pati dan Ponorogo, Publik Merasa ‘Ada yang Aneh’ dalam Penegakan Hukum

Publik dibuat gelisah usai dua kasus serupa disandingkan, kasus dugaan suap/gratifikasi antara Bupati Pati dan Ponorogo. Keduanya dianggap menghasilkan respon berbeda dari penegakan hukum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebagaimana diketahui bersama, Sugiri Sancoko yang saat itu menjabat sebagai Bupati Ponorogo secara mengejutkan terkena OTT. Masyarakat Ponorogo sontak geger, tak percaya. Dari sekian banyak diskusi warganet

Bagikan Artikel ini:

Beda Nasib Bupati Pati dan Ponorogo, Publik Merasa ‘Ada yang Aneh’ dalam Penegakan Hukum Read More »

Monumen Reog Ponorogo, Sebuah Ambisi Kecil Penguasa

Ponorogo sudah sepantasnya bangga karena di daerah ini berdiri sebuah monumen tertinggi se-Indonesia. Monumen Reog, setinggi 126 meter, berdiri tegak di Gunung Gamping, Sampung, seakan ingin berkata kepada siapa saja yang lewat: “Ini rumahnya Reog.” Di sekitarnya kelak ada Museum Peradaban, tempat sejarah dan artefak Ponorogo dirawat dengan cahaya lampu yang temaram dan narasi resmi

Bagikan Artikel ini:

Monumen Reog Ponorogo, Sebuah Ambisi Kecil Penguasa Read More »