
PONOROGONEWS.ID – Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko menegaskan status sebagai Kota Kreatif Dunia bukan sekadar gelar bergengsi, melainkan tanggungjawab besar yang harus dijaga dan diwujudkan melalui langkah nyata.
Menurutnya, prestasi ini melalui jalan berliku untuk mencapainya. Capaian ini, kata dia, berkat semangat kolaboratif dan kreativitas warga Ponorogo.
“UCCN kan memang harus kita songsong, kita sambut, lalu kita rawat dengan baik. Ini tidak gampang mencarinya, tidak gampang meraihnya. Sejak awal 2022 kita sudah dorong, pernah gagal, lalu berbenah. Maka hari ini kita mencapai titik di mana Ponorogo mendapatkan UCCN,” tutur Kang Giri pada Rabu (05/11/2025).
Ia mengatakan kewajiban semua elemen masyarakat Ponorogo untuk merawat prestasi ini. “Kewajibannya kita kreatif, kita berkolaboratif, kita tumbuh, rakyat sejahtera. Karena kita sudah mendapatkan UCCN, tinggal kita merawatnya dengan baik sesuai ketentuan,” tegasnya.
Menurut Kang Giri, begitu sapaan akrabnya, tantangan ke depan ialah memastikan Ponorogo mampu berjejaring dengan kota-kota kreatif dunia lainnya melalui penguatan kolaborasi lintas sektor.
“Tugas kita adalah bagaimana mengkolaborasi kreativitas, menggali kreativitas, lalu menumbuhkan kreativitas agar Kota Kreatif ini berjejaring dengan dunia. Ini kesempatan emas untuk kita gerakkan secara gemuruh,” lanjutnya.
Ia menambahkan pemerintah daerah akan menggandeng berbagai pihak untuk menjaga keberlanjutan status kota kreatif, mulai dari mahasiswa, pelaku UMKM, seniman, hingga masyarakat umum.
“Kita mengundang mahasiswa, pelaku UMKM, pelaku wisata, dan masyarakat untuk bergerak bersama. Mulai dari UMKM-nya, wisatanya, perubahan peradabannya, hingga kebersihan dan moral masyarakat, semuanya kita data secara detail agar Ponorogo siap menjadi kota yang mendunia,” imbuhnya.
Terkait sektor pariwisata, Bupati Ponorogo dua periode itu menilai masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap potensi wisata daerah.
“Kita tidak melihat wisata itu dari sisi destinasi saja, tapi mencoba me-re-orientasi mindset kita bahwa wisata adalah semua yang menjadi tujuan orang untuk belajar, studi banding, atau menjadi episentrum kegiatan,” jelasnya.
Bahkan ia juga mencontohkan bagaimana sektor pertanian dapat dikembangkan menjadi wisata edukatif yang kreatif.
“Misalnya ada kafe, wisata petik buah, masak pohon, makan, atau mancing. Nah, ini yang harus kita pikirkan,” terangnya.
Di akhir pernyataannya, Kang Giri menekankan kunci utama mempertahankan predikat Kota Kreatif Dunia adalah perubahan mindset dan semangat berinovasi.
“Yang perlu diubah pertama adalah mindset. Kita harus berorientasi wisata dan kreatif. Tugas kita adalah berbenah diri dan berinovasi,” pungkasnya.*** ADV




