
PONOROGONEWS.ID – Pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten Ponorogo memastikan kesiapsiagaan dalam menghadapi musim hujan. Salah satu langkah awal yang dilakukan adalah memeriksa fungsi early warning system (EWS).
Alat peringatan dini bencana banjir ini terpasang di sejumlah titik rawan. Dengan adanya peralatan ini, tim BPBD Ponorogo dapat mengevakuasi warga lebih awal apabila ada potensi banjir.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Ponorogo, Masun, mengatakan peralatan peringatan dini bencana banjir itu masih berfungsi dengan baik. Menurutnya perlu dukungan dari sisi energi karena accu-nya sudah melemah.
“Rata-rata masih berfungsi dengan baik (alat EWS), hanya perlu dukungan dari sisi energi karena accu-nya mulai melemah. Kami sudah melakukan perbaikan agar alat lebih peka mendeteksi kenaikan elevasi air,” ujar Masun, Senin (3/11/2025).
Diketahui saat ini, BPBD Ponorogo mengelola tiga unit EWS banjir yang terpasang di Sungai Tempuran, Ngampel, dan Kali Gendol. Pengecekan kondisi dan performa alat dilakukan pada awal Oktober lalu.
Masun menjelaskan alat EWS yang berfungsi optimal dapat memberikan waktu lebih lama bagi petugas maupun warga untuk menyelamatkan diri dan barang berharga jika banjir benar-benar terjadi.
Lebih lanjut, BPBD juga menjalin koordinasi dengan para kepala desa di wilayah yang dilalui Sungai Keyang, salah satu aliran yang bermuara ke Bengawan Solo. Upaya mitigasi dilakukan dengan menjaga sungai agar tetap bersih dari sampah, rumpun bambu, dan endapan sedimen supaya aliran air tetap lancar.
“Aliran Bengawan Solo itu melewati sebagian wilayah Kecamatan Mlarak, Jetis, Siman, dan Kecamatan Ponorogo yang tahun lalu sempat terdampak luapan air sungai,” ucapnya.
Selain perawatan alat dan koordinasi lintas wilayah, BPBD Ponorogo juga rutin melakukan sosialisasi mitigasi bencana melalui media sosial resminya. Informasi yang dibagikan mencakup prakiraan cuaca ekstrem, potensi bencana, serta panduan keselamatan bagi masyarakat.
Masun menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan warga dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.
“Kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga masyarakat. Dengan adanya peringatan dini bersamaan kesadaran warga yang meningkat, maka dapat menekan dampak bencana,” pungkasnya.***



