
PONOROGONEWS.ID – Baitulmaal Muamalat (BMM) menggelar kegiatan bertajuk Pelatihan Ciprat Berdaya: Pelatihan Teknik Batik Ciprat dan Cap untuk Pemberdayaan Disabilitas Tunagrahita pada 17–18 Januari 2026 di Rumah Harapan Batik Ciprat, Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Ponorogo.
Kegiatan ini diikuti 21 peserta yang terdiri dari penyandang disabilitas tunagrahita, pendamping Rumah Harapan, serta relawan yang terlibat dalam program pemberdayaan Batik Ciprat Karangpatihan.
Dalam pelatihan tersebut, BMM menghadirkan dua praktisi batik sekaligus trainer, Guntur dan Hartini, pemilik Batik Si Gun Ponorogo yang berpengalaman dalam pengembangan teknik dan produksi batik.
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas sumber daya manusia sekaligus inovasi teknik produksi Batik Ciprat Karangpatihan.
Peserta diperkenalkan pada teknik batik cap sebagai metode alternatif yang dapat dikombinasikan dengan batik ciprat untuk menambah variasi dan meningkatkan kualitas produk, tanpa menghilangkan karakter ekspresif khas penyandang disabilitas.
Pada hari pertama, peserta mengikuti praktik langsung mulai dari proses membatik cap, teknik menciprat warna, pewarnaan kain, hingga tahap penguncian warna menggunakan waterglass. Seluruh proses dilakukan bertahap dengan pendampingan intensif melalui pendekatan pembelajaran yang adaptif dan inklusif.
Hari kedua difokuskan pada penguatan pemahaman teknis, mulai dari pemilihan dan pencampuran warna, proses pencucian kain, hingga metode pengeringan agar warna lebih tahan lama dan mutu produk tetap terjaga.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Teknik batik cap menjadi pengalaman baru bagi sebagian besar peserta sehingga menumbuhkan semangat baru dalam berkarya. Pendamping dan relawan juga aktif mengikuti pelatihan sebagai bagian dari penguatan kapasitas mereka dalam mendampingi proses produksi Batik Ciprat.
Ketua Pengurus Rumah Harapan Karangpatihan, Yuliana, menyampaikan apresiasinya atas dukungan BMM.
“Dukungan dan pendampingan dari teman-teman BMM sangat bermanfaat bagi Rumah Harapan, khususnya dalam pengembangan Batik Ciprat Karangpatihan. Kami berharap ke depan dapat terus mendapatkan pendampingan agar program ini semakin berkembang dan berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, BMM berharap keterampilan teknis peserta meningkat, kualitas produk semakin baik, serta kemandirian penyandang disabilitas tunagrahita dan para pendamping terus tumbuh.
Program Batik Ciprat Karangpatihan pun diharapkan semakin kuat sebagai model pemberdayaan ekonomi inklusif di Ponorogo.***




