
PONOROGONEWS.ID – Sebagai langkah mitigasi bencana di musim penghujan, BPBD Kabupaten Ponorogo telah memastikan alat peringatan dini atau EWS banjir berfungsi optimal. Early Warning System merupakan rangkaian sistem yang bekerja dengan memberikan peringatan kepada masyarakat tentang potensi terjadinya bencana.
EWS banjir berarti alat peringatan dini tentang terjadinya bencana banjir di suatu wilayah akibat peningkatan debit air. Titik yang dipasang EWS banjir akan memberikan deteksi dini mengenai bencana banjir, sehingga masyarakat dan pemerintah bisa segera melakukan evakuasi lebih awal dan meminimalisir dampak buruk dari bencana yang terjadi.
Di Kabupaten Ponorogo sendiri sudah terpasang empat alat EWS banjir di beberapa titik rawan. Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Ponorogo, Masun, menjelaskan sebagian besar alat peringatan dini atau EWS banjir masih berfungsi optimal di beberapa titik rawan.
“Saat ini BPBD Ponorogo mengelola tiga EWS, masing-masing di Sungai Tempuran, Sungai Gendol, dan Sungai Grenteng. Dengan tambahan dari provinsi ini, jumlahnya menjadi empat unit,” terang Masun kepada wartawan saat ditanya perihal jumlah EWS banjir di Ponorogo.
Tambahan satu unit EWS banjir dari BPBD Provinsi Jawa Timur itu sudah dipasang pada 28 Oktober 2025 lalu. Titik yang dipilih untuk penempatan alat EWS banjir itu ialah di aliran sungai Desa Kalimalang, Kecamatan Sukorejo.
Menurut keterangan Masun, titik tersebut termasuk daerah rawan banjir karena merupakan titik temu antara aliran Sungai Grenteng dan Dam Sungkuran Badengan yang kerap meluap saat curah hujan tinggi.
“Setelah mempertimbangkan potensi dan urgensinya, kami memilih Kalimalang karena paling membutuhkan alat peringatan dini,” terangnya.
Ia menjelaskan lebih lanjut, keberadaan alat peringatan dini EWS banjir ini sangat penting dalam langkah mitigasi bencana. Terutama untuk memberikan peringatan kepada masyarakat saat debit air meningkat atau terjadi tanda-tanda longsor. Dengan demikian, kata Masun, warga diharapkan bisa segera melakukan evakuasi diri sebelum bencana melanda.
Selain itu, ia mengajak masyarakat untuk menjaga keberadaan alat deteksi bencana banjir itu agar tetap berfungsi optimal saat dibutuhkan. Pihaknya meminta masyarakat untuk segera melapor apabila ada kerusakan agar bisa segera diperbaiki.
“Masyarakat bisa membantu menjaga dan melapor bila ada kerusakan supaya segera diperbaiki,” pungkasnya.***




