Amalan Sunnah yang Dianjurkan Saat Idulfitri, Lengkapi Kebahagiaan Hari Kemenangan

Panduan Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh: Bacaan, Waktu Pelaksanaan, dan Penjelasan Ulama

PONOROGONEWS.ID – Hari Raya Idulfitri selalu menjadi momen yang dinanti umat Islam. Setelah sebulan penuh menahan diri selama Ramadan, hari kemenangan ini dirayakan dengan suasana penuh kehangatan bersama keluarga. Selain menjadi ajang saling memaafkan, Idulfitri juga diisi dengan anjuran amalan sunnah untuk menyempurnakan ibadah.

Berikut sejumlah amalan yang dapat dilakukan pada Hari Raya Idulfitri:

Shalat Idulfitri Secara Berjamaah

Shalat Idulfitri termasuk sunnah muakkadah dan telah menjadi amalan Rasulullah SAW sejak tahun kedua hijriah, setelah ditetapkannya kewajiban puasa Ramadan. Pelaksanaannya dianjurkan secara berjamaah, baik di masjid maupun di lapangan, menyesuaikan kapasitas tempat.

Perempuan pun dibolehkan hadir dengan syarat menjaga aurat, tidak memakai wewangian berlebihan, dan mendapatkan izin dari wali atau suami bagi yang sudah menikah. Waktu pelaksanaan dimulai sejak terbit matahari hingga menjelang Dzuhur, dengan anjuran sedikit menundanya hingga matahari naik setinggi satu tombak untuk mengikuti sunnah Nabi.

Mandi Sunnah di Pagi Hari

Sebelum berangkat melaksanakan shalat Id, mandi sunnah menjadi amalan yang dianjurkan bagi seluruh umat, termasuk bagi mereka yang tidak ikut shalat Idulfitri. Waktu terbaik untuk mandi adalah setelah fajar hingga mendekati pelaksanaan shalat.

Menghidupkan Malam Idulfitri

Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk mengisi malam lebaran dengan ibadah, seperti membaca Al-Qur’an, shalat sunnah, dzikir, dan bershalawat. Dalam riwayat Ad-Daruquthni disebutkan, siapa yang menghidupkan dua malam raya, “hatinya tidak akan mati pada hari ketika banyak hati yang mati.”

Mengumandangkan Takbir

Lantunan takbir menjadi syiar utama sejak malam 1 Syawal hingga sebelum shalat Idulfitri dimulai. Dua jenis takbir yang dapat diamalkan adalah:

Takbir Muqayyad: dibaca setelah shalat fardhu maupun sunnah.

Takbir Mursal: boleh dikumandangkan kapan saja, baik di rumah, masjid, hingga sepanjang perjalanan.

Baca Juga: —  Data Jadi Kunci Kebijakan Publik, Ponorogo Bangun Ekosistem Satu Data yang Kuat

Makan Terlebih Dahulu Sebelum Shalat Id

Berbeda dengan Iduladha, pada Idulfitri Rasulullah SAW biasa makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat. Riwayat menyebutkan, Nabi mengonsumsi kurma dalam jumlah ganjil sebelum menuju tempat shalat.

Berjalan Kaki ke Lokasi Shalat

Jika mampu, umat Islam dianjurkan berjalan kaki menuju tempat shalat Id. Sunnah ini mengikuti praktik Rasulullah SAW, meski bagi lansia atau yang memiliki keterbatasan fisik, diperbolehkan menggunakan kendaraan.

Mengambil Rute Berbeda Saat Pulang

Dalam hadits riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW menggunakan jalan berbeda saat pergi dan pulang dari lokasi shalat Id. Hal ini diyakini sebagai upaya memperbanyak pahala sekaligus memperluas kesempatan menyebarkan salam.

Berhias dan Memakai Pakaian Terbaik

Hari raya menjadi kesempatan untuk tampil rapi dan bersih. Memakai pakaian terbaik, terutama yang berwarna putih, sangat dianjurkan. Kebiasaan membeli baju baru saat lebaran juga selaras dengan anjuran menampakkan kegembiraan di hari kemenangan.

Saling Mengucapkan Selamat dan Memaafkan

Tradisi saling memberikan ucapan selamat menjadi bagian tak terpisahkan dari Idulfitri. Ungkapan yang sering diucapkan antara lain:

“Taqabbalallahu minna wa minkum.”

“Minal aidin wal faizin.”

“Mohon maaf lahir dan batin.”

Ucapan ini biasanya dibarengi salaman atau berjabat tangan sebagai simbol mempererat silaturahmi.***

Author

  • Redaksi Ponorogo News

    Portal berita yang tumbuh dari kota Ponorogo yang menyajikan informasi aktual, independen, dan inspiratif seputar peristiwa, gaya hidup, budaya dan pendidikan.

Bagikan Artikel ini: