
PONOROGONEWS.COM – Ratusan seniman Reog dari berbagai wilayah di Kabupaten Ponorogo berkumpul dalam kegiatan Tadarus Budaya dan Syukuran Reog sebagai Warisan Budaya Tak Benda (ICH) UNESCO yang digelar pada Jumat malam, 6 Maret 2026. Kegiatan tersebut dipusatkan di depan Patung Singa Ponorogo dan berlangsung meriah.
Tidak kurang dari 150 dadak merak, ratusan penari Jathil, serta tokoh Bujang Ganong dari berbagai generasi turut memeriahkan acara tersebut. Kehadiran para seniman lintas generasi ini menjadi bukti bahwa kesenian Reog Ponorogo masih memiliki regenerasi yang kuat.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan Tadarus Budaya tersebut.
Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga sarana memperkuat kebersamaan para pelaku budaya.
“Terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah mendukung acara malam ini. Kita semua berkumpul dalam kegiatan Tadarus Budaya yang dimulai dari bagi-bagi takjil hingga pentas Reog,” ujar Lisdyarita.
Ia menjelaskan bahwa Tadarus Budaya telah digelar selama tiga tahun terakhir dan menjadi salah satu kegiatan yang ikut mengenalkan Ponorogo lebih luas melalui kekuatan budayanya.
Lisdyarita juga menegaskan pentingnya menjaga kekompakan para seniman Reog, terlebih setelah kesenian tersebut masuk dalam daftar Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO.
“Reog sudah masuk ICH UNESCO, maka kita harus kompak untuk menjaganya. Pemerintah juga akan terus mengadakan pelatihan-pelatihan mulai dari PAUD hingga tingkat dewasa agar generasi penerus Reog tetap ada,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa Reog merupakan ikon utama Kabupaten Ponorogo yang harus terus dilestarikan agar semakin dikenal di tingkat dunia.
“Ini budaya kita, ikon Kabupaten Ponorogo. Mari kita jaga bersama agar Reog semakin dikenal di dunia,” katanya.
Sementara itu, tokoh seniman Reog Ponorogo, Hari Purnomo atau Mbah Pur menyampaikan bahwa kegiatan Tadarus Budaya menjadi tanda kesiapan para seniman dalam menyambut bulan suci Ramadhan.
Menurutnya, para penari Jathil juga patut bangga karena pemimpin daerah turut menunjukkan kecintaannya terhadap seni tersebut.
“Jathil-jathil Reog Ponorogo harus bangga, karena saat ini Plt Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita juga bisa menari Jathil,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung mengenai tradisi pertunjukan Reog menjelang sahur yang masih diperbolehkan selama tetap menjaga ketertiban.
“Pertunjukan Reog menjelang sahur tidak dilarang oleh pihak kepolisian. Itu hal yang baik, tapi yang perlu digaris bawahi adalah jangan sampai ada minuman keras saat pertunjukan,” tegasnya.*




