
PONOROGONEWS.ID – SMP Negeri 2 Kauman kembali menggelar Dakapo Festival 2026 sebagai ruang pembinaan bakat sekaligus upaya menanamkan kecintaan terhadap budaya Reog sejak usia dini. Kegiatan tahunan ini menjadi agenda rutin sekolah yang terus berinovasi untuk mencetak generasi penerus bangsa serta memperkuat ekosistem pendidikan dan kebudayaan di Ponorogo.
Pembukaan Dakapo Festival dilakukan langsung oleh Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, pada Senin, 9 Februari 2026, di lapangan SMPN 2 Kauman. Kehadiran kepala daerah ini sekaligus menegaskan dukungan pemerintah terhadap pelestarian seni tradisi di kalangan pelajar.
Dalam dua tahun terakhir, festival ini juga menghadirkan Piala Bergilir Bupati Ponorogo untuk juara umum. Trofi prestisius tersebut pada periode pertama dan kedua berhasil dibawa pulang oleh SD Negeri 2 Somoroto.
Kepala SMPN 2 Kauman, Indarto, menyampaikan bahwa Dakapo Festival telah menjadi ruang pembinaan budaya yang konsisten dijalankan sekolah.
“Kegiatan hari ini kita laksanakan dalam rangka Dakapo Festival yang rutin kita laksanakan sejak 2017,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa penyelenggaraan festival ini merupakan bentuk nyata komitmen sekolah dalam menjaga keberlangsungan Reog Ponorogo.
“Ini wujud kita dalam melestarikan Reog setelah mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai warisan budaya tak benda,” lanjutnya.
Tahun ini, berbagai perlombaan kembali digelar untuk merangsang kreativitas dan minat siswa, mulai dari futsal, pramuka, bola voli, mendongeng, hingga berbagai kompetisi seni.
“Jadi kita berusaha sedini mungkin agar anak-anak bisa mencintai kesenian Reog,” terangnya.
Indarto berharap Dakapo Festival terus menjadi wadah pengembangan talenta akademik maupun non akademik.
“Semoga kegiatan ini mampu memadai siswa yang berprestasi akademik maupun non akademik,” ungkapnya.
Sementara itu, Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, memberi apresiasi besar kepada para pendamping dan tenaga pendidik yang terus berperan aktif menjaga keberlanjutan budaya daerah.
“Bapak ibu guru pendamping yang luar biasa, melestarikan budaya dengan menjadi pendamping kesenian di tingkat SD hingga SMA,” tuturnya.
Ia mengingatkan bahwa masuknya Reog dalam daftar ICH UNESCO membawa tanggung jawab besar bagi masyarakat Ponorogo.
“Reog sudah masuk ICH UNESCO, jadi saya berterimakasih banyak pada bapak ibu guru yang sudah sangat luar biasa mendidik anak-anak sehingga mereka sejak dini sudah belajar kesenian Reog Ponorogo,” pungkas Lisdyarita.***




