
PONOROGONEWS.ID – Kaum pria tercatat memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan jantung dibanding perempuan. Faktor hormon, pola hidup, hingga tekanan psikologis menjadi pemicu utama yang membuat laki-laki lebih rentan terkena penyakit kardiovaskuler, terutama saat memasuki usia lanjut.
Dokter Spesialis Jantung RSUD dr Harjono Ponorogo, dr Anna Budiarti, menjelaskan bahwa bertambahnya usia berbanding lurus dengan meningkatnya risiko penyakit jantung. Kondisi tersebut kerap baru terdeteksi ketika seseorang melakukan aktivitas fisik berat, termasuk saat berolahraga.
“Banyak pasien datang setelah merasakan keluhan saat aktivitas berat. Padahal sebelumnya merasa baik-baik saja,” ujarnya, Rabu (7/1/2026).
Menurut dr Anna, salah satu gangguan yang sering muncul adalah aritmia, yaitu irama detak jantung yang terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur.
Ia mengibaratkan jantung seperti pembangkit listrik yang mengalirkan energi ke seluruh tubuh. Jika sistem kelistrikan itu terganggu, maka ritme jantung juga akan bermasalah, terutama ketika tubuh dipaksa bekerja lebih keras.
Terkait kasus meninggalnya sejumlah atlet dan peserta olahraga akibat serangan jantung mendadak, dr Anna menegaskan bahwa tidak semua gangguan jantung dapat terdeteksi sejak dini.
Namun, masyarakat tetap perlu mewaspadai berbagai faktor risiko, baik yang tidak bisa diubah seperti usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga, maupun yang bisa dikendalikan seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan kadar kolesterol.
“Hipertensi, gula darah tinggi, dan kolesterol yang tidak terkontrol bisa diperbaiki dengan pengobatan dan perubahan gaya hidup. Itu kunci pencegahan,” jelasnya.
Untuk menekan risiko serangan jantung mendadak, ia menganjurkan masyarakat rutin menjalani pemeriksaan kesehatan, mulai dari cek tekanan darah, gula darah, hingga pemeriksaan jantung lanjutan seperti treadmill test. Tes ini berfungsi sebagai skrining untuk mendeteksi potensi penyakit jantung yang tidak terlihat pada pemeriksaan biasa.
Selain pencegahan, kesiapsiagaan medis dalam setiap event olahraga juga dinilai sangat penting. Dr Anna menekankan perlunya tim kesehatan yang siaga di lokasi kegiatan, serta edukasi bantuan hidup dasar bagi masyarakat, termasuk kemampuan melakukan resusitasi jantung paru (RJP) atau pijat jantung saat terjadi henti jantung mendadak.
“Penanganan cepat oleh orang di sekitar korban bisa menyelamatkan nyawa sebelum tenaga medis datang,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan sinyal tubuh. Gejala seperti nyeri dada, jantung berdebar tidak teratur, pusing, hingga sesak napas harus segera ditindaklanjuti. Nyeri dada yang menjalar ke lengan kiri, punggung, atau rahang, disebut sebagai tanda klasik gangguan jantung yang tidak boleh disepelekan.
Untuk berolahraga dengan aman, masyarakat perlu memahami batas denyut jantung maksimal sesuai usia. Selain menggunakan smartwatch, pengukuran juga bisa dilakukan secara manual di pergelangan tangan. Rumus sederhananya adalah 220 dikurangi usia.
Dr Anna juga mengajak masyarakat menerapkan pola hidup sehat, mulai dari istirahat cukup, konsumsi makanan bergizi, hingga membatasi asupan garam dan lemak. Dalam satu porsi makan, ia menyarankan agar sayur dan protein lebih dominan dibanding karbohidrat, serta memperbanyak buah dan air putih.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa aktivitas fisik dan olahraga tetap penting bagi kesehatan jantung, asalkan dilakukan secara aman dan terukur.
Pada olahraga intensitas sedang, denyut jantung ideal berada di kisaran 50–70 persen dari denyut maksimal. Jika sudah mendekati batas tersebut, tubuh perlu diberi waktu untuk beristirahat.
“Setiap orang punya kapasitas jantung yang berbeda. Kuncinya adalah mengenali batas tubuh sendiri dan tidak memaksakan diri,” pungkasnya.***



