Ponorogo Tembus 10 Besar Lumbung Pangan Jatim, Petani Jadi Kunci Ketahanan Pangan Nasional

Ponorogo Tembus 10 Besar Lumbung Pangan Jatim, Petani Jadi Kunci Ketahanan Pangan Nasional

PONOROGONEWS.ID – Di saat banyak daerah di Indonesia masih berjibaku dengan ancaman krisis pangan, Kabupaten Ponorogo justru tampil sebagai salah satu penopang utama stok beras Jawa Timur. 

Pada awal 2026, Ponorogo resmi masuk dalam daftar 10 besar kabupaten penghasil pangan terbesar di Jatim, menegaskan perannya sebagai wilayah strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Pencapaian ini dirayakan melalui Tasyakuran Swasembada Pangan yang digelar di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sukorejo, Rabu (7/1/2026). 

Acara tersebut terhubung langsung secara nasional melalui konferensi daring bersama Presiden RI, Prabowo Subianto, yang menyampaikan apresiasi terhadap daerah-daerah penyangga pangan.

Baca Juga: —  Pengamanan Lingkungan Kantor Pemkab Ponorogo Kembali di Bawah Kendali Satpol PP

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Ponorogo, Herry Sutrisno, menegaskan bahwa posisi Ponorogo di papan atas bukan hasil instan. Dari total 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur, Ponorogo secara konsisten menjadi salah satu penyumbang produksi pangan terbesar.

“Ini bukan keberuntungan. Ini buah kerja panjang petani, penyuluh, dan kebijakan pemerintah yang berpihak pada produksi,” ujar Herry.

Ia menjelaskan, salah satu perubahan penting terjadi sejak 1 Januari 2026. Sebanyak 164 penyuluh pertanian di Ponorogo kini resmi menjadi pegawai Kementerian Pertanian RI. Dengan sistem baru ini, seluruh mekanisme mulai dari penggajian, evaluasi kinerja, hingga penugasan dikendalikan langsung oleh pusat.

“Sekarang jalur komunikasi lebih cepat. Kalau ada persoalan pupuk, alat mesin, atau gagal panen, penyuluh bisa langsung berkoordinasi ke kementerian,” jelasnya.

Skema tersebut dinilai mampu memangkas kerumitan birokrasi yang selama ini kerap memperlambat respons di lapangan. Bagi petani, penyuluh bukan lagi sekadar pendamping, melainkan penghubung langsung dengan pemerintah pusat.

Di sisi lain, Pemkab Ponorogo memilih memfokuskan peran pada dukungan nyata di lapangan, mulai dari alat mesin pertanian, sarana produksi, hingga pendampingan teknis.

“Kami hanya ingin satu hal: petani tetap mau menanam. Selama itu terjadi, ketahanan pangan aman,” kata Herry.

Baca Juga: —  Sempat Unggul 2-0, Persepon Ponorogo Tumbang dari PSID Jombang dan Terpuruk di Dasar Klasemen Grup HH Liga 4 Jatim

Hal senada disampaikan Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita. Ia menilai keberhasilan Ponorogo tak bisa dilepaskan dari peran petani yang selama ini bekerja dalam senyap.

“Tanpa petani, tidak ada makanan di meja kita. Masuk 10 besar ini karena kerja keras panjenengan semua,” ucapnya.

Namun ia juga mengingatkan bahwa tantangan pertanian ke depan semakin kompleks, terutama soal regenerasi petani. Menurutnya, sektor pertanian harus dikemas lebih modern agar diminati generasi muda.

“Anak muda hidup di era digital. Pertanian juga harus mengikuti zaman, dari teknologi hingga sistem produksi,” katanya. 

Pemerintah daerah, lanjutnya, siap mendorong lewat ketersediaan pupuk terjangkau, benih unggul, dan program pendukung seperti listrik masuk sawah.

Perubahan itu sudah dirasakan langsung petani. Muhammad Sholeh, petani asal Desa Lengkong, Kecamatan Sukorejo, mengaku produktivitas lahannya melonjak dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya hanya mampu panen dua hingga tiga kali setahun, kini ia bisa panen hingga empat kali.

“Teknologinya yang berubah. Persemaian kering bikin waktu tanam lebih rapat, tidak banyak jeda,” tuturnya.***

Author

  • Redaksi Ponorogo News

    Portal berita yang tumbuh dari kota Ponorogo yang menyajikan informasi aktual, independen, dan inspiratif seputar peristiwa, gaya hidup, budaya dan pendidikan.

Bagikan Artikel ini: