Malam Tahun Baru Banyak Event di Ponorogo, Tapi Tanpa Kembang Api

Kabupaten Ponorogo menjadi salah satu dari lebih 400 kota kreatif dunia yang diakui UNESCO.

PONOROGONEWS.ID – Suasana malam pergantian tahun 2025 menuju 2026 di Ponorogo berlangsung berbeda dari biasanya. Tidak ada dentuman kembang api di langit kota. Sebagai gantinya, masyarakat disuguhi berbagai kegiatan seni, budaya, dan religi yang tersebar di sejumlah titik wilayah.

Pemerintah Kabupaten Ponorogo sengaja menghadirkan banyak agenda alternatif agar perayaan tahun baru tidak semata bersifat hiburan, tetapi juga mengandung nilai kebudayaan dan spiritual. 

Mulai dari pertunjukan wayang kulit di Eks Pasar Lanang, peluncuran Calendar of Event Ponorogo (KEPO), pentas Music on The Street di depan Paseban Alun-alun Ponorogo, hingga Pagelaran Seni Kerakyatan dan Ponorogo Bersholawat di kawasan Monumen Reog dan Museum Peradaban (MRMP), Kecamatan Sampung.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Ponorogo, Judha Slamet, menyebut kegiatan di kawasan Monumen Reog dan Museum Peradaban pada Rabu malam (31/12/2025) menjadi salah satu rangkaian penting penyambutan Tahun Baru 2026.

“Mulai dari peluncuran Calendar of Event Ponorogo (KEPO), kegiatan di Telaga Ngebel, hingga beberapa event di lokasi lain. Semua kami laksanakan dalam rangka menyambut Tahun Baru 2026,” ujar Judha.

Baca Juga: —  Di Hadapan Aisyiyah, Bunda Lis Ingatkan Ancaman Disintegrasi di Media Sosial

Menurut Judha, kawasan Monumen Reog dan Museum Peradaban saat ini mulai menunjukkan geliat sebagai destinasi wisata baru, meskipun proses pembangunan belum sepenuhnya rampung. Tingginya jumlah kunjungan masyarakat dan wisatawan menjadi indikatornya.

“Meskipun Monumen Reog belum selesai 100 persen, namun setiap hari selalu ada wisatawan yang datang,” tambahnya.

Melihat antusiasme tersebut, Judha mengajak masyarakat sekitar untuk ikut ambil bagian dalam pengelolaan dan penataan kawasan wisata, khususnya di wilayah Kecamatan Sampung.

“Ini menjadi berkah bagi masyarakat sekitar, khususnya di Sampung. Untuk memajukan destinasi wisata baru ini, kami mengajak seluruh elemen masyarakat, para kepala desa se-Kecamatan Sampung, untuk bergerak bersama menata kawasan wisata ini,” ajaknya.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menilai Monumen Reog dan Museum Peradaban bukan hanya menjadi ikon budaya, tetapi juga ruang aktivitas publik yang memberi dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Monumen ini sangat luar biasa. Di sini lengkap, mulai dari kuliner, wahana wisata, hingga tempat bermain anak. Pada pagi hari juga dimanfaatkan warga untuk berolahraga,” ujar Lisdyarita.

Selain pentas seni dan hiburan, perayaan malam tahun baru di kawasan Monumen Reog juga diisi dengan sholawat dan doa bersama. Doa dipanjatkan untuk keselamatan dan ketenteraman Ponorogo, sekaligus untuk saudara-saudara di daerah lain yang tengah dilanda bencana, termasuk di Aceh dan Sumatera.

Baca Juga: —  Refleksi Tanpa Petasan, Perayaan Tahun Baru 2026 di Ponorogo Dipenuhi Nuansa Religi dan Budaya

Dalam momentum tersebut, Lisdyarita kembali mengingatkan pentingnya kebersamaan masyarakat Ponorogo, terlebih setelah Reog Ponorogo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO dan Ponorogo resmi masuk dalam jejaring UNESCO Creative Cities Network (UCCN).

“Dengan pengakuan dunia terhadap Reog dan hadirnya Monumen Reog dan Museum Peradaban, kita semua harus bergerak dan bergandeng erat untuk menuju Ponorogo Hebat,” pungkasnya.***

Author

  • Redaksi Ponorogo News

    Portal berita yang tumbuh dari kota Ponorogo yang menyajikan informasi aktual, independen, dan inspiratif seputar peristiwa, gaya hidup, budaya dan pendidikan.

Bagikan Artikel ini: