
PONOROGONEWS.ID – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mengungkapkan bahwa kegiatan Bumi Reog Berdzikir (BRB) memiliki nilai historis dan spiritual yang kuat bagi masyarakat Ponorogo.
Menurutnya, BRB pertama kali digelar sebagai bentuk doa bersama di tengah maraknya bencana alam yang sempat melanda wilayah Ponorogo.
“Dalam sejarahnya BRB awalnya dulu di bulan pertama kali dengan tujuan untuk doa bersama di tengah banyaknya bencana alam yang terjadi di ponorogo lalu hampir setiap tahun BRB digelar untuk berdoa,” jelas Lisdyarita.
Seiring berjalannya waktu, kegiatan tersebut hampir rutin diselenggarakan setiap tahun sebagai ikhtiar spiritual memohon keselamatan dan ketenteraman bagi daerah.
Pada tahun 2025 ini, BRB kembali digelar dengan tujuan yang sama, yakni mendoakan saudara-saudara yang tertimpa bencana serta memohon agar ke depan Kabupaten Ponorogo dan Indonesia secara umum dijauhkan dari bencana alam maupun marabahaya lainnya.
“Pada 2025 ini BRB kembali digelar, kita berdoa bersama untuk saudara-saudara kita yang tertimpa bencana dan ke depan semoga ponorogo dan Indonesia terhindar dari bencana alam dan marabahaya lainnya,” imbuhnya.
Lisdyarita berharap, melalui kegiatan BRB, nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan dapat terus terjaga.
Ia juga mengajak Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) untuk senantiasa menjadi suri teladan dalam menciptakan suasana yang damai dan tentram, baik dalam membina persaudaraan antar anggota maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kami berharap PSHT bisa menjadi suri tauladan untuk menciptakan suasana damai, tentram dalam membina persaudaraan sesama anggota dan masyarakat.”***




