
Perkembangan teknologi digital, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), telah mengubah cara manusia memperoleh, mengolah, dan menggunakan pengetahuan. Dalam dunia pendidikan, teknologi AI mulai dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari pencarian referensi hingga membantu penyusunan tugas akademik. Fenomena ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan kini hadir semakin cepat dan praktis seiring pesatnya perkembangan teknologi. Namun, dibalik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah kemajuan ilmu pengetahuan masih dijalankan dengan kesadaran moral, atau justru mulai kehilangan nuraninya?
Dalam kajian filsafat ilmu, pengetahuan tidak dipahami sekadar sebagai kumpulan data atau perangkat teknis semata. Ilmu selalu berkaitan dengan nilai, cara berpikir, serta tanggung jawab manusia sebagai subjek yang menggunakannya. Oleh karena itu, ilmu tidak dapat dilepaskan dari pertimbangan etis. Ketika ilmu hanya dimaknai sebagai sarana untuk mencapai hasil secara cepat dan instan, maka makna dasarnya sebagai proses pencarian kebenaran berpotensi memudar.
Fenomena penggunaan kecerdasan buatan dalam dunia pendidikan menjadi contoh yang banyak dibicarakan belakangan ini. Tidak sedikit pelajar dan mahasiswa memanfaatkan teknologi tersebut untuk menyelesaikan tugas secara instan. Di satu sisi, hal ini mencerminkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, di sisi lain, praktik tersebut memunculkan persoalan serius terkait kejujuran akademik dan tanggung jawab intelektual. Ilmu yang sejatinya bertujuan melatih proses berpikir kritis justru berisiko direduksi menjadi sekadar alat praktis tanpa refleksi.
Filsafat ilmu menegaskan bahwa ilmu tidak hanya membahas pertanyaan “bagaimana sesuatu dilakukan”, tetapi juga “untuk apa ilmu itu digunakan”. Rasionalitas ilmiah perlu berjalan beriringan dengan kesadaran etis agar ilmu tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan. Tanpa nurani, ilmu memang dapat berkembang secara teknis, namun berpotensi kehilangan arah dalam menjawab persoalan sosial dan moral yang dihadapi manusia. Ilmu pengetahuan pun dapat bergeser dari sarana untuk mencapai tujuan kemanusiaan menjadi tujuan itu sendiri.
Selain itu, perkembangan teknologi juga ditandai dengan maraknya informasi yang dikemas seolah-olah ilmiah, lengkap dengan istilah akademik dan data statistik, tetapi tidak selalu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Banyak informasi tampak meyakinkan, namun minim penalaran kritis. Dalam konteks ini, filsafat ilmu mengajarkan pentingnya sikap skeptis yang sehat, yakni keberanian untuk mempertanyakan sumber, metode, dan validitas suatu pengetahuan sebelum menerimanya sebagai kebenaran ilmiah.
Dari sisi pendidikan, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri. Pendidikan tidak cukup hanya menekankan penguasaan teknologi dan keterampilan teknis, tetapi juga harus menanamkan pemahaman tentang hakikat ilmu itu sendiri. Ilmu seharusnya membentuk manusia yang reflektif, memiliki tanggung jawab moral, serta tidak mudah terjebak pada kebenaran semu yang tidak jelas sumber dan landasannya. Tanpa fondasi tersebut, pendidikan beresiko menghasilkan individu yang cakap secara teknis, namun rapuh secara etis.
Bagi mahasiswa, khususnya dalam bidang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), persoalan ini memiliki relevansi yang kuat. PPKn tidak hanya bertujuan membentuk warga negara yang cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan bertanggung jawab. Ilmu pengetahuan yang dipelajari di perguruan tinggi seharusnya menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran kritis serta kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Berbagai kajian akademik telah lama menegaskan bahwa ilmu pengetahuan memerlukan integritas dan kesadaran etis agar tetap dipercaya oleh masyarakat. Ilmu yang dilepaskan dari tanggung jawab moral berpotensi disalahgunakan dan menjauh dari tujuan utamanya. Oleh karena itu, kemajuan ilmu pengetahuan harus selalu diimbangi dengan nalar kritis serta kesadaran akan dampaknya bagi kehidupan sosial.
Pada akhirnya, era kecerdasan buatan menuntut manusia untuk tidak hanya menjadi pengguna ilmu yang cerdas, tetapi juga bertanggung jawab secara etis. Ilmu pengetahuan akan tetap relevan apabila dijalankan dengan kesadaran moral, sikap kritis, dan kepekaan sosial. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, menjaga nurani ilmu menjadi langkah penting agar pengetahuan tetap berkontribusi bagi kemanusiaan dan kehidupan yang lebih bermartabat.***
Penulis: Syahra Maulida Fauziah Rohma adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) yang memiliki minat pada kajian filsafat ilmu, pendidikan, dan isu-isu kemanusiaan di era digital.



