Di Tengah Banjir Informasi, Mengapa Mahasiswa Perlu Filsafat Ilmu?

Foto: unsplash
Filsafat ilmu jadi fondasi penting agar mahasiswa tak kehilangan arah dalam memahami kebenaran. (Foto: Unsplash)

Mahasiswa sering dianggap sebagai kelompok intelektual yang diharapkan mampu berpikir kritis dan rasional. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit mahasiswa yang masih memandang ilmu sebatas kumpulan teori yang harus dihafal. Cara pandang semacam ini menjadi tantangan tersendiri, terutama di era digital ketika informasi datang begitu cepat dan mudah diakses.

Media digital membuka peluang besar bagi mahasiswa untuk belajar dari berbagai sumber. Namun, kemudahan tersebut juga membawa risiko. Informasi yang beredar tidak selalu memiliki dasar ilmiah yang jelas. Tanpa sikap kritis, mahasiswa dapat menerima berbagai klaim kebenaran tanpa proses berpikir yang mendalam. Pada titik inilah filsafat ilmu menjadi relevan untuk kembali dibicarakan.

Filsafat ilmu mengajak mahasiswa memahami bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar hasil akhir, melainkan sebuah proses. Ilmu dibangun melalui metode tertentu, diuji secara rasional, dan selalu terbuka terhadap kritik. Dengan pemahaman ini, mahasiswa tidak mudah menganggap suatu informasi sebagai kebenaran hanya karena sering muncul atau banyak dipercaya.

Baca Juga: —  Ketika Semua Merasa Paling Benar: Krisis Otoritas Ilmu di Era Media Sosial

Pola pikir ilmiah sangat dibutuhkan dalam kehidupan akademik. Pola pikir ini menuntut mahasiswa untuk bersikap logis, objektif, dan terbuka terhadap perbedaan pandangan. Tantangan mahasiswa saat ini bukan kekurangan informasi, melainkan kesulitan memilah informasi yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Tanpa bekal filsafat ilmu, mahasiswa berisiko terjebak pada cara berpikir instan.

Opini populer, pengalaman pribadi, atau informasi viral kerap dijadikan rujukan utama. Akibatnya, diskusi akademik menjadi kurang mendalam dan karya ilmiah kehilangan daya kritisnya.

Melalui filsafat ilmu, mahasiswa dilatih untuk mempertanyakan dasar suatu pengetahuan. Sikap kritis ini penting agar mahasiswa mampu menilai kekuatan dan keterbatasan suatu teori secara objektif. Selain itu, pemahaman filsafat ilmu membantu mahasiswa menggunakan metode keilmuan secara lebih sadar dan bertanggung jawab.

Filsafat ilmu juga mengingatkan bahwa ilmu tidak dapat dilepaskan dari nilai dan etika. Penguasaan ilmu pengetahuan harus diiringi dengan kesadaran akan dampaknya bagi masyarakat. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial.

Baca Juga: —  Ponorogo: Budaya, Monumen dan Sampah

Di tengah derasnya arus informasi digital, filsafat ilmu menjadi fondasi penting agar mahasiswa tidak kehilangan arah dalam memahami kebenaran. Dengan memahami filsafat ilmu, mahasiswa diharapkan mampu membangun pola pikir ilmiah yang kritis, reflektif, dan bertanggung jawab dalam kehidupan akademik maupun sosial.

 

Penulis: Aferda Cantika Sari adalah mahasiswi Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Ia tertarik pada kajian filsafat ilmu, literasi digital, serta pembentukan pola pikir ilmiah mahasiswa di tengah arus informasi era digital.

Author

  • Redaksi Ponorogo News

    Portal berita yang tumbuh dari kota Ponorogo yang menyajikan informasi aktual, independen, dan inspiratif seputar peristiwa, gaya hidup, budaya dan pendidikan.

Bagikan Artikel ini: