
PONOROGONEWS.ID – Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat 22 titik kejadian tersebar terutama di kawasan timur yang dikenal memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo, Agung Prasetya, menyebut Kecamatan Pulung, Sooko, Pudak, dan Sawoo sebagai wilayah paling rawan. Kondisi geologi yang labil membuat daerah ini mudah mengalami pergerakan tanah saat curah hujan meningkat.
“Dari pemetaan PVMBG, khususnya di Gondangsari, Pulung, bentuk lahannya ‘tapal kuda’. Jika hujan lebat turun lama, tanah menjadi labil dan sangat berpotensi longsor,” jelasnya.
Hujan deras berkepanjangan disebut sebagai pemicu utama. Lereng yang jenuh air tak mampu menahan beban, sehingga memicu longsor beruntun di sejumlah titik.
Salah satu lokasi terdampak terparah berada di Desa Wagir Kidul, Kecamatan Pulung. Longsoran material menutup akses jalan desa dan merusak dua rumah warga. BPBD telah membuka jalur sementara untuk kendaraan roda dua, namun proses pembersihan dan evakuasi masih berlangsung.
“Kontur tanah di lokasi sangat labil sehingga proses evakuasi harus dilakukan hati-hati untuk menghindari longsor susulan,” ujar Agung.
Di Gondangsari, dua rumah mengalami kerusakan berat, sementara 12 rumah di Banaran kini masuk zona terancam akibat pergerakan tanah aktif. BPBD juga telah menyalurkan bantuan kebutuhan dasar untuk warga terdampak dan menyiapkan langkah darurat apabila kondisi memburuk.
Agung mengingatkan warga di kawasan perbukitan untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terutama saat hujan turun dalam waktu lama.
“Jika hujan berdurasi panjang, warga yang tinggal di daerah rawan segera mengungsi ke lokasi aman. Pemdes sudah kami minta untuk mengkoordinasikan langkah cepat demi keselamatan,” katanya.***




