Ponorogo Punya Modal Besar Jadi Sentra Herbal Nasional, Ini Penjelasan Ahli

Ponorogo Punya Modal Besar Jadi Sentra Herbal Nasional, Ini Penjelasan Ahli

PONOROGONEWS.ID – Potensi Ponorogo di sektor tanaman herbal kian terbaca jelas. Kondisi geografis yang didominasi perbukitan membuat daerah ini sangat cocok untuk budidaya berbagai tanaman obat. Keunggulan alam tersebut bahkan dinilai menjadi modal kuat bagi Ponorogo untuk berkembang sebagai sentra herbal unggulan nasional.

“Ponorogo memiliki keunggulan komparatif dengan sejumlah tanaman herbal khas,” kata Yaya Sulthon Aziz, dosen Program Studi Farmasi Akafarma Sunan Giri Ponorogo dikutip dari laman resmi Kabupaten Ponorogo.

Yaya memaparkan sedikitnya empat faktor yang membuat peluang Ponorogo di sektor herbal terbuka lebar. Mulai dari meningkatnya tren global back to nature, ketersediaan bahan baku lokal yang berlimpah, peluang pengembangan wisata kesehatan berbasis tanaman obat, hingga potensi industri hilir yang bernilai tambah tinggi.

Baca Juga: —  Milad ke-113 Muhammadiyah Warnai Apresiasi untuk Capaian UNESCO Ponorogo

Salah satu konsep yang dinilai prospektif adalah pengembangan desa wisata herbal. Menurut Yaya, “Konsep desa wisata herbal yang memadukan edukasi tanaman obat keluarga, workshop pembuatan jamu tradisional, dan paket wellness lokal seperti serangkaian layanan spa, pijat, terapi herbal, atau perawatan tubuh yang memanfaatkan produk alami khas daerah bisa menjadi daya tarik wisata yang unik.”

Ponorogo juga dikenal sebagai wilayah yang subur untuk tanaman jahe merah, temulawak, kunyit, kencur, lengkuas, brotowali, sambiloto, hingga temu ireng. Tanaman-tanaman ini banyak ditemukan di kawasan perbukitan seperti Ngrayun, Slahung, Bungkal, Ngebel, Sooko, dan Pulung.

Namun potensi besar tersebut belum sepenuhnya optimal. Yaya menyebut masih ada persoalan mendasar dalam tata budidaya dan pengolahan. 

“Mayoritas petani masih mengandalkan teknik turun-temurun tanpa penerapan cara budidaya tanaman obat yang baik atau good agricultural practices sehingga kualitas dan kuantitas panen belum konsisten,” terangnya.

Kendala juga datang dari minimnya fasilitas pengolahan modern. “Belum adanya industri ekstraksi skala menengah membuat petani kesulitan mengolah hasil panen menjadi produk yang lebih tahan lama dan bernilai tinggi,” ungkap Yaya.

Untuk menjawab tantangan itu, Yaya mendorong Pemkab Ponorogo memperkuat pendampingan melalui sekolah lapang agribisnis herbal berbasis good agricultural and collection practices (GACP). Program ini dinilai dapat meningkatkan kemampuan petani dalam budidaya, panen, dan pascapanen. 

“Agar nantinya petani dapat menghasilkan bahan baku herbal berkualitas tinggi dan konsisten sebagai dasar pengembangan industri,” jelasnya.

Baca Juga: —  SPPG Kunti Resmi Beroperasi: Lisdyarita Tekankan Kemandirian Pangan dan Peluang Kerja Baru

Yaya juga mengusulkan pembangunan Pusat Inovasi dan Standardisasi Herbal (PISH) sebagai layanan terpadu. Fasilitas tersebut dapat menyediakan laboratorium uji mutu, unit ekstraksi skala menengah, serta sarana pengeringan dan penggilingan. 

“Dengan adanya PISH, UMKM dan koperasi petani bisa mengakses teknologi pengeringan dan ekstraksi. Hasilnya, produk olahan herbal memenuhi standar industri farmasi dan ekspor,” ujarnya.***

Author

  • Redaksi Ponorogo News

    Portal berita yang tumbuh dari kota Ponorogo yang menyajikan informasi aktual, independen, dan inspiratif seputar peristiwa, gaya hidup, budaya dan pendidikan.

Bagikan Artikel ini: