
Pola asuh atau parenting memegang peran besar dalam membentuk karakter anak ketika dewasa. Orang tua mendidik, membimbing, dan merawat sejak anak lahir hingga dewasa. Seluruh proses itu menjadi penentu emosi anak, cara anak bersosial, hingga penentu cara mereka dalam mengambil keputusan sulit dalam hidupnya.
Parenting membutuhkan keahlian, inilah mengapa orang yang hendak memiliki anak sebaiknya membekali diri dengan ilmu pola asuh yang sehat untuk tumbuh kembang buah hatinya.
Namun dalam tulisan ini saya tidak akan membahas teknik parenting secara khusus. Saya akan mengungkapkan kegelisahan tentang sesuatu yang lebih mendasar, yaitu bagaimana parenting makin sulit akibat standar moral yang kian kabur di negeri ini.
Ini semua berawal ketika saya tergelitik membaca postingan sebuah akun di media sosial beberapa waktu lalu. Akun tersebut menulis “Parenting jadi lebih sulit di negara yang nggak jelas standar moralnya.” Membaca postingan itu membuat saya berpikir, oh iya ya, bagaimana kita mengajarkan kepada anak tentang kejujuran, kalau orang dewasa banyak yang menciderai maknanya?
Setiap hari, linimasa kita dipenuhi pemberitaan tentang kasus korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, pelecehan seksual, aksi aparat yang tak pantas, hingga pernyataan pejabat yang tak mencerminkan seorang pemimpin.
Di rumah, di sekolah, kita berusaha mengajarkan kepada anak untuk selalu jujur, tidak boleh nyontek saat ujian, menjalankan aturan dengan sadar, dan menjaga adab dalam keseharian. Tapi dalam kehidupan nyata, anak-anak kita menyaksikan orang dewasa mencontohkan hal yang tidak pantas, kejujuran diterabas, aturan dilanggar, dan mengabaikan adab dalam berperilaku. Bahkan mereka melakukan semua itu secara sadar tanpa rasa bersalah.
Indonesia dikenal sebagai negara yang tingkat korupsinya sangat tinggi. Praktik korupsi dilakukan bukan hanya di pusat pemerintahan, bahkan pemerintahan daerah setingkat desa pun tak luput dari aksi lancung ini. Korupsi seakan sudah mandarah daging dalam kehidupan masyarakat. Setiap mengurus administrasi atau melamar suatu pekerjaan harus ada ‘amplop’ yang diberikan. Jika tidak, pengurusan dokumen bisa jadi tidak akan berjalan mulus.
‘Nembak’ saat ujian SIM pun sudah menjadi rahasia umum. Praktik ini seolah dianjurkan meski secara tidak langsung. Padahal jelas terpampang poster besar di kantor polisi ‘Jauhi Suap!’ Tapi aksi suap dan gratifikasi sudah menjadi makanan sehari-hari di sana. Akibatnya banyak orang memilih ‘nembak’ ketimbang mengikuti prosedur.
Apalagi menjelang waktu pemilu yang disebut-sebut sebagai pesta demokrasi, justru kasus suap merajalela hingga tingkat RT. Serangan fajar jelang pemilu seakan sudah menjadi tradisi berkedok sogokan supaya rakyat mau diarahkan untuk memilih calon dan partai tertentu. Padahal jelas ini merupakan bentuk manipulasi suara rakyat.
Pegawai Negeri Sipil juga tak luput dari aksi politik. Padahal sudah jelas tertera dalam undang-undang bahwa ASN dilarang berpihak pada partai tertentu. Tapi apalah arti aturan jikalau tidak dilanggar? Ya, inilah negeri kita tercinta, yang disebut tanah surga, tapi rakyatnya tidak sejahtera akibat korupsi yang merajalela.
Seakan nilai-nilai moral yang diajarkan sejak kecil seperti kejujuran, integritas, dan tanggung jawab, seolah hanya teori belaka. Dalam praktiknya, kejujuran adalah sebuah barang langka yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang ‘waras’ akalnya.
Tentu tidak mudah untuk terus melaju di dalam jalur idealisme yang jujur. Memilih jujur di negeri yang moralnya kabur seringkali harus siap dengan konsekuensinya. Ada harga yang harus dibayar mahal: rela dibantai, dikucilkan, diasingkan, hingga rela tidak naik jabatan.
Sejatinya Indonesia tidak kekurangan orang pintar dan cerdas. Tapi kita hanya kekurangan orang yang jujur. Terkadang, harga yang harus dibayar untuk sebuah kejujuran adalah nyawa. Itulah sebabnya banyak orang memilih menyerah pada keadaan demi mendapat rasa aman.
Meskipun begitu, kita tak boleh putus asa. Tetap ajarkan kejujuran kepada anak-anak kita, kepada murid-murid kita, kepada keponakan-keponakan kita, kepada saudara-saudara kita, bahwa kejujuran bukan hanya teori di dalam buku pelajaran. Tapi kejujuran adalah inti dari sebuah kehidupan.
Justru karena kita tinggal di negeri yang standar moralnya abu-abu, parenting menjadi sangatlah penting. Dari rumah, pondasi generasi masa depan dibentuk. Ketika lingkungan sering kali penuh godaan dan ajakan untuk menabrak nilai, keluarga harus menjadi benteng terakhir untuk menjaganya tetap teguh.
Ponorogo, 15 November 2025




