Sampah Tak Akan Hilang, Hanya Berpindah Tempat dan Jadi Momok Bagi Masyarakat

Penumpukan sampah di TPA akibat tidak adanya kebiasaan memilah dan mengolah sampah di ruma. (Foto: pexels.com)

Sampah yang terus bermunculan setiap hari terus menjadi momok bagi Kabupaten Ponorogo. Tiap hari puluhan ton sampah rumah tangga, UMKM, hingga restoran dan instansi pemerintahan, semuanya mengalir dan menumpuk di TPA. Di balik tumpukan itu, semuanya berasal dari kebiasaan memilah sampah di rumah yang belum mendarah daging bagi warganya.

Volume sampah meningkat seiring gaya hidup konsumtif masyarakat. UMKM makin meningkat, kemasan sekali pakai makin beragam bahan dan bentuknya. Mulai dari kemasan plastik makanan, minuman, hingga kantong belanja yang menjadi penyumbang besar di Kabupaten Ponorogo. Belum lagi sampah sisa makanan yang juga turut menambah kadar gas metana di TPA. Lebih memprihatinkan lagi, sebagian besar sampah itu hanya berakhir begitu saja, menggunung, tanpa melalui pemilahan dan pengolahan yang memadai.

Banyak orang beranggapan, selama di rumah mereka bersih dari sampah, maka selama itu pula hidup baik-baik saja. Padahal setiap sampah yang dihasilkan masyarakat tidak hilang dengan sendirinya. Sampah-sampah itu hanya berpindah tempat saja. Butuh ratusan hingga jutaan tahun untuk terurai secara alami di alam. Ibarat orangnya sudah meninggal dunia, tapi sampahnya masih eksis di bumi mengotori lingkungan.

Baca Juga: —  7 Gaya Hidup Minim Sampah sebagai Trend untuk Atasi Permasalahan Sampah di Ponorogo

Sementara sampah organik yang terjerembab di dalam plastik, menumpuk di TPA, pada akhirnya akan menghasilkan gas metana yang berkontribusi terhadap perubahan iklim hingga kebakaran di TPA.

Gaya Hidup Serba Cepat

Gaya hidup modern yang mengutamakan kepraktisan menyumbang besar terhadap timbulan sampah. Pesan makanan online, minuman dalam kemasan, sampai belanja online, menjadi trend yang sedang meningkat. Konsekuensi besar yang didapat dari gaya hidup serba cepat adalah munculnya lautan sampah plastik yang sulit terurai di alam.

Banyak jenis plastik yang beredar di pasaran, dan setiap jenis berbeda penanganan dan pengolahannya. Sementara pemerintah kita masih banyak yang belum mampu untuk menangani pengolahan sampah.

Coba tengok di dapur. Tempat sampah di pojokan penuh dengan plastik pembungkus sayuran, bungkus mie instan, botol plastik, hingga sisa sayur yang semuanya tercampur menjadi satu. Kebiasaan kecil membeli kopi dalam gelas sekali pakai setiap hari, menyumbang ribuan gelas plastik ke TPA dalam setahun.

Perubahan Kecil di Rumah

Solusi dari persoalan tumpukan sampah sebenarnya tidak begitu rumit sebagaimana yang dibayangkan. Asalkan kita semua sadar dan memahami, bahwa sampah perlu dicegah sejak di hulu. Caranya ialah dengan perubahan kecil di rumah. Menerapkan pemilahan dan pengelolaan sampah secara mandiri di rumah adalah kunci paling efektif.

Rumah adalah tempat kita belajar dan membangun kebiasaan baik. Mengelola sampah dari sumbernya (rumah) adalah langkah paling efektif dan berkelanjutan. Jadi mulailah segalanya dari rumah! Kebiasaan baik di rumah, menanamkannya ke setiap anggota keluarga, maka akan membawa dampak besar bagi lingkungan. Nah, di bawah ini mungkin bisa kamu mulai lakukan di rumah, yaitu:

1. Pisahkan Sampah Organik dan Anorganik

Mulai memilah sampah sejak di dapur dengan memisahkan sampah organik dan anorganik. Dengan aksi ini, sampah tidak akan menyebabkan bau dan bisa terkelola berdasarkan jenisnya.

2. Olah Organik Jadi Kompos

Mengolah sampah organik jadi kompos yang menyuburkan tanah. Sisa sayur dan buah adalah ibarat barang berharga bagi yang tanaman. Jika diolah menjadi kompos, ia akan menyuburkan tanaman. Tentu saja tanaman yang subur akan bermanfaat bagi manusia di sekitarnya.

3. Kurangi Kemasan Sekali Pakai

Mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai dengan cara membiasakan diri dan keluarga untuk selalu membawa tumbler, wadah makanan, dan tas belanja sendiri. Langkah kecil ini bisa menghemat ratusan plastik per orang setiap tahun.

4. Gunakan Kembali

Menggunakan kembali barang yang masih layak pakai seperti kardus bekas untuk tempat penyimpanan, botol kaca untuk vas bunga, galon bekas untuk tanam sayur dan bunga, dan lain sebagainya.

5. Bergabung atau Mendirikan Bank Sampah

Aksi baik untuk lingkungan ini akan semakin efektif apabila dikerjakan secara komunal bersama masyarakat. Maka penting untuk edukasi dan gerakan bersama lewat bank sampah. Bank sampah menjadi wadah untuk belajar, berkolaborasi, membangun semangat dan kesadaran, serta menjadi garda terdepan dalam pengelolaan sampah.

Sampah adalah Tanggungjawab Bersama

Dengan demikian, mengelola sampah bukan sekedar tren gaya hidup hijau yang sedang populer di media sosial. Tapi ini adalah tanggung jawab bersama. Dimulai dari rumah, dari keputusan kecil setiap hari.

Setiap kali kita memilih membawa botol minum sendiri, setiap kali menolak kantong plastik, atau memanfaatkan kembali sisa makanan, kita sedang menunda satu langkah kecil menuju krisis lingkungan yang lebih besar.

Mungki saja, solusi atas gunungan sampah itu bukan terletak di TPA. Tapi di meja makan, di dapur, dan di hati setiap warga yang peduli. Sebab bumi yang bersih bukan warisan, melainkan titipan yang harus dijaga bersama.

Ponorogo, 8 November 2025

Author

  • Arini Sa'dah

    A passionate and detail-oriented content writer professional with a strong background in journalism and digital media.

Bagikan Artikel ini: