
Meminjam istilah Djakob Sumarjo, masyarakat Jawa adalah masyarakat orang sawah — bukan masyarakat kota, bukan masyarakat mesin, melainkan masyarakat yang hidup dari tanah dan berputar mengikuti irama musim. Di sana, kerja bukan sekadar ekonomi, tapi laku. Ada filosofi yang menyusup di antara lumpur dan batang padi muda: tentang keseimbangan, tentang harmoni, tentang hidup yang harus dijalani berdua.
Maka kalau hari ini orang-orang kota berdebat tentang feminisme, patriarki, atau kesetaraan gender dengan kalimat-kalimat yang ndakik-ndakik dan penuh kutipan jurnal, orang sawah mungkin hanya tersenyum kecil. Mereka tidak perlu membaca The Second Sex untuk memahami arti kerja bersama. Sebab, di sawah, teori itu sudah hidup — hanya tanpa nama.
Tandur dan Matun: Laku Ibu
Dalam pola kerja orang sawah, perempuan biasanya mengerjakan tandur (menanam) dan matun (menyiangi rumput). Dua kegiatan yang butuh ketelatenan dan rasa halus, dua sifat yang dalam simbolisme Jawa sering disebut sebagai daya ibu — sumber kehidupan dan penjaga kesuburan.
Perempuan turun ke lumpur bersama benih, menanam harapan dengan punggung membungkuk dan kaki berendam dalam air. Saat mereka matun, mereka sebenarnya sedang menjalankan ritual sunyi: merawat, membersihkan, memberi ruang agar yang tumbuh bisa hidup lebih sehat. Tidak ada yang lebih filosofis dari itu.
Cangkul dan Panen: Laku Bapak
Sementara laki-laki biasanya mengerjakan hal-hal yang berurusan dengan cangkul, membalik tanah, membuat pematang, dan kemudian ikut panen. Tapi jangan bayangkan itu kerja maskulin yang kaku. Banyak perempuan juga ikut ngasak — memungut gabah sisa panen — atau sekadar membantu mengikat jerami. Tidak ada larangan, tidak ada “ini kerja laki-laki, itu kerja perempuan.”
Kerja sawah tidak mengenal dikotomi; yang penting hasilnya bisa dimakan bersama. Mungkin di situlah bedanya masyarakat sawah dengan masyarakat teori. Yang satu berdebat soal siapa yang menindas siapa, yang satu sibuk menanam agar besok bisa makan.
Keseimbangan, Bukan Dominasi
Orang sawah tidak bicara “kesetaraan gender.” Mereka hanya tahu bahwa hidup harus seimbang. Kalau perempuan menanam, laki-laki menyiapkan tanah. Kalau laki-laki mengangkut hasil panen, perempuan yang menghitung dan menjual. Dalam banyak keluarga Jawa, ibu justru menjadi pemegang kendali ekonomi. Uang panen masuk ke tangannya, dan ia yang menentukan: buat makan, buat sekolah, buat simpenan kalau paceklik datang.
Itu bukan “pemberdayaan ekonomi perempuan”, tapi tradisi keseimbangan. Orang Jawa menyebutnya rukun lan sambung urip: hidup yang saling menyambung, bukan saling menindas.
Bahasa Lokal yang Disalahpahami
Sering orang luar menuding Jawa patriarkal karena ada ungkapan “wanito iku konco wingking.” Tapi tafsir lama atas “wingking” bukan berarti “belakang” dalam arti terbelakang, melainkan “penopang dari belakang.” Dalam laku hidup, “wingking” adalah tempat penyangga, tempat seseorang bersandar. Maka, perempuan bukan di bawah, melainkan di balik — menopang kehidupan dari sisi yang tak selalu tampak.
Dengan cara itu, orang Jawa sudah lama menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai pasangan kosmis: lintang lan rembulan, banyu lan lemah, angin lan geni. Tak ada yang lebih tinggi, sebab keduanya hanya bermakna kalau berpasangan.
Feminisme yang Membumi
Mungkin benar, di kota, feminisme menjadi bahasa perjuangan. Tapi di desa, ia adalah laku sehari-hari.
Feminisme versi orang sawah tidak hadir di seminar atau jurnal internasional, tapi di punggung perempuan yang menunduk menanam benih, di tangan laki-laki yang mengangkat karung gabah sambil bersiul kecil, dan di dapur tempat keduanya duduk bersama menghitung uang panen.
Mereka tidak tahu istilah gender equality, tapi mereka paham kalau nasi di meja itu hasil dari kerja bersama. Mungkin itu sebabnya masyarakat sawah jarang sibuk dengan teori — karena mereka sudah melakukannya.
Penutup
Feminisme orang sawah bukan tentang siapa yang berkuasa, tapi siapa yang mau bekerja.
Ia tidak bicara tentang hak dan kewajiban dalam bahasa hukum, tapi dalam bahasa laku: siapa yang kuat menanam, menanam; siapa yang kuat mencangkul, mencangkul. Semua untuk hidup bersama, bukan untuk menang sendiri.
Maka, barangkali, orang sawah sudah lebih “feminis” daripada mereka yang sibuk mendefinisikan feminisme.
Bedanya cuma satu: orang sawah tidak menulisnya dalam buku. Mereka menuliskannya dengan lumpur, di petak-petak padi yang setiap musim mengajarkan kesetaraan tanpa teori.




