Budi, Penjual ATK Keliling di Madiun Bertahan di Tengah Gempuran Belanja Online

Di tengah kemudahan berbelanja alat tulis kantor (ATK) secara daring, masih ada sosok yang setia menekuni profesi penjual ATK keliling di Madiun. Dialah Budi, pria paruh baya asal Caruban, yang selama sepuluh tahun terakhir menjadikan pekerjaan ini sebagai sumber utama penghidupan bagi keluarganya.

Setiap pagi, Budi berangkat dari rumahnya menuju Kota Madiun dengan sepeda motor. Di bagian belakang motornya, bertumpuk berbagai barang dagangan seperti bolpoin, pensil, buku tulis, penghapus, hingga spidol. Ia berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain, dari kantor ke kantor, menawarkan barang kebutuhan tulis-menulis kepada pelanggan tetap maupun pembeli baru.

“Biasanya saya jual ATK, tapi kalau sudah dekat bulan Agustus, saya tambahi bendera juga,” ujarnya sambil tersenyum.
Menurut Budi, menjelang perayaan Hari Kemerdekaan, permintaan bendera merah putih dan ornamen khas 17 Agustus meningkat tajam. Momen tersebut menjadi waktu yang dinantikannya untuk menambah penghasilan.

Baca Juga: —  KAI Daop 7 Madiun Luncurkan 'Railtour Jawa Timur', Telaga Ngebel Ponorogo Jadi Destinasi Unggulan

Meski kini banyak toko modern dan marketplace online yang menawarkan produk serupa dengan pengiriman instan, Budi tetap setia berjualan dengan cara tradisional. Ia mengaku lebih nyaman membeli stok barang di toko-toko konvensional di kawasan Jalan Serindit dan Jalan Trunojoyo, Kota Madiun.
“Sudah biasa beli di toko-toko lama. Barangnya bagus dan bisa langsung cek kualitasnya,” kata Budi.

Pendapatan dari berjualan keliling memang tidak selalu menentu. Namun, bagi Budi, pekerjaan ini tetap mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Dengan modal kecil, ia tetap bisa mengambil keuntungan tanpa harus membebani pembeli dengan harga tinggi.
“Kalau ATK ambil untungnya sedikit, tapi kalau bendera lumayan lebih besar,” tuturnya.

Budi tidak hanya menjual barang, tetapi juga membangun hubungan personal dengan pelanggannya. Sikap ramah dan kesediaannya melayani pembeli dengan sabar membuat banyak pelanggan tetap mempercayainya. Cara ini menjadi “modal sosial” yang tak bisa digantikan oleh toko online mana pun.

Kisah penjual ATK keliling di Madiun seperti Budi menjadi potret nyata semangat pantang menyerah pelaku usaha mikro di era digital. Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, Budi membuktikan bahwa model bisnis konvensional masih memiliki tempat.
Dedikasi, ketekunan, dan adaptasi terhadap kebutuhan pelanggan menjadi kunci untuk bertahan.

Keberadaan pedagang keliling seperti Budi juga memberi warna tersendiri dalam denyut ekonomi lokal. Mereka bukan hanya menjual barang, tetapi turut menjaga interaksi sosial antarwarga yang kini semakin jarang terjadi akibat digitalisasi.

Baca Juga: —  Playlist Musik Terbaik untuk Menemani Hujan Turun

Selama masih ada kebutuhan alat tulis di sekolah, kantor, atau rumah, Budi yakin profesinya tidak akan hilang ditelan zaman. “Yang penting tetap semangat, rezeki sudah ada yang atur,” ucapnya menutup perbincangan.

Di tengah gempuran toko online dan tren belanja digital, kisah penjual ATK keliling di Madiun seperti Budi menjadi pengingat bahwa kerja keras dan kesetiaan pada profesi sederhana tetap mampu menghadirkan keberlanjutan ekonomi — sekaligus sentuhan kemanusiaan — di era serba cepat ini.

Author

  • Redaksi Ponorogo News

    Portal berita yang tumbuh dari kota Ponorogo yang menyajikan informasi aktual, independen, dan inspiratif seputar peristiwa, gaya hidup, budaya dan pendidikan.

Bagikan Artikel ini: